| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Wednesday, August 10, 2016

Pengaruh Peningkatan Suhu dan Keasaman Laut terhadap Zooplankton


Peningkatan keasaman air laut, peningkatan suhu, eutrofikasi dan kehilangan oksigen: Kehidupan di lautan harus mengatasi berbagai faktor tersebut. Bagaimana tanaman dan hewan laut bereaksi ketika perubahan iklim global mengubah lingkungan mereka? Eksperimen di laboratorium dan lapangan, pengamatan di habitat alami yang ekstrim dan pendekatan pemodelan diteliti untuk mengevaluasi reaksi dari ekosistem laut.


Para ilmuwan dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research di Kiel menggunakan  yang disebut "indoor mesocosms " untuk memodelkan laut masa depan di laboratorium mereka: Mereka memindahkan komunitas plankton alami dari lokasi
Fjord di Kiel ke dalam dua belas tangki 1400 liter dan merancang kondisi dua temperatur yang berbeda dan dua konsentrasi karbon dioksida yang berbeda pula. Setelah satu bulan, tabung-tabung diperiksa kembali baik jumlah dan ukuran tubuh dari berbagai tahap perkembangan copepoda serta kandungan dari asam lemak mereka, yang sangat penting untuk nilai gizi organisme. Krustasea dengan panjang hingga satu milimeter merupakan bagian terbanyak dari zooplankton, yakni mencapai 80% dari total populasi zooplankton. Mereka merupakan makanan penting bagi ikan dan larva mereka. Jurnal PLOS ONE menerbitkan hasil studi yang dilakukan sebagai bagian dari BIOACID jaringan riset Jerman (Dampak Biologi Pengasaman Laut).

"Beberapa percobaan telah menunjukkan bahwa efek dari berbagai faktor lingkungan pada organisme laut dapat menambah atau melemahkan satu sama lain. Karena fungsi tubuh dari organisme yang diubah secara berbeda oleh kombinasi faktor, sangat sulit untuk memperkirakan hasil akhir," jelas Dr Jessica Garzke, ahli biologi kelautan di GEOMAR dan penulis pertama dalam artikel publikasi tersebut. "Untuk copepoda, kami telah menunjukkan bahwa dampak negatif dari meningkatnya suhu air lebih penting daripada pengasaman air laut. Pengasaman air laut atau samudera dapat mengurangi sejumlah reaksi -. Misalnya, karena karbon dioksida tambahan yang terlarut dalam air laut mendukung pertumbuhan fitoplankton sebagai makanan untuk copepoda. Tapi pada akhirnya, manfaat ini tidak cukup kuat untuk mencapai efek positif. 

"Penelitian Kiel adalah yang pertama untuk memberikan wawasan tentang dampak pengasaman laut dan meningkatnya suhu pada komposisi asam lemak dalam komunitas alami copepoda. "Menurut pengamatan kami, komposisi asam lemak terpengaruh secara negatif. Ini berarti bahwa kualitas makanan ke tingkat yang lebih tinggi dari jaring makanan dapat berkurang," Garzke menekankan. "jejaring makanan, yang juga dipengaruhi oleh kualitas makanan - bukan oleh jumlah atau kuantitas semata - akan turut memburuk."

 Dr. Garzke dan timnya menganggap bahwa hasil mereka dapat ditransfer ke daerah pesisir lainnya yang mirip dengan Fjord di Kiel . "Karena tingkat karbon dioksida sangat berfluktuasi diakibatkan kondisi aliran di fjord, organisme dapat beradaptasi pada tingkat tinggi dan kurang berdampak buruk dibandingkan kawanan zooplankton di perairan lain," ahli biologi ini mengandaikan. "Tapi kita harus mempertimbangkan bahwa lebih banyak faktor lingkungan yang ikut berperan pada waktu mendatang. Kita perlu lebih banyak percobaan untuk menyelidiki skenario ini khususnya untuk spesies ekologis penting."


sumber: sciencedaily

0 comments:

Post a Comment