| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Friday, August 12, 2016

Ekspedisi Internasional untuk Mengungkap Penyebab Gempa dan Tsunami 2004


Bencana gempa bumi yang melanda Sumatera Utara dan Kepulauan Andaman dan Nicobar pada 26 Desember Tahun 2004 lampau telah menyebabkan tsunami yang menerpa masyarakat pesisir di sekitar Samudera Hindia. Kejadian ini mencatat telah menewaskan lebih dari 250.000 orang di 14 negara. Gempa ini disebabkan oleh slip pada zona subduksi batas lempeng di bawah Samudra Hindia bagian timur.

gambar diperoleh dari University of Southampton


Sekarang, untuk beberapa minggu mendatang, tim peneliti internasional kembali ke lepas pantai Sumatera untuk mengumpulkan sedimen laut, batu dan sampel air dari zona ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari proses material dan untuk mengumpulkan data yang dapat memprediksi bagaimana lempeng-lempeng tersebut bekerja di zona sesar yang mampu menghasilkan gempa bumi besar.


Sepanjang Agustus dan September para peneliti tersebut, termasuk ahli dari Ocean and  Earth Science dari Universitas Southampton akan menghabiskan dua bulan di atas kapal pengebor JOIDES Resolution sebagai bagian dari the International Ocean Discovery Programme (IODP). Ekspedisi ini sendiri melibatkan 33 ilmuwan dan dua pengajar dari 13 negara termasuk Profesor Lisa McNeill dan Tim Henstock dari University of Southampton. Profesor McNeill adalah salah satu pemimpin Ekspedisi bersama dengan Associate Professor Brandon Dugan dari Colorado School of Mines dan Dr Katerina Petronotis dari IODP.

 
"Kami sangat gembira bahwa proyek ini akan dimulai karena setelah persiapan yang dilakukan bertahun-tahun serta dedikasi dari seluruh tim ilmuwan dari seluruh dunia," kata Profesor McNeill. "Kami memiliki tim yang sangat baik di sini dan kami berharap hasilnya akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya mengontrol ukuran gempa bumi yang sangat (ter)besar di Bumi, terutama setelah jumlah besar korban akibat gempa subduksi dan tsunami dalam 10-15 tahun terakhir.

"kedua Gempa bumi yang terjadi pada Boxing Day 2004 dan gempa Tohoku-oki Tahun 2011, terjadi pada kedalaman lebih dangkal dari yang diduga, dimana gempa bumi dan tsunami yang dihasilkan sangat besar, serta mendorong re-evaluasi potensi gempa bumi akibat slip dan sifat-sifat dari patahan pada subduksi dangkal , "lanjut Profesor McNeill. "rentetan gempa bumi berkekuatan besar melanda batas lempeng ini sejak Tahun 2004, termasuk juga gempa bumi yang luar biasa besar di lempeng India pada lepas pantai Sumatera Utara Tahun 2012. Oleh karena itu mengembangkan pemahaman yang lebih baik dari proses gempa, perilaku tsunami dan potensi yang akan terjadi menjadi prioritas bagi masyarakat setempat, untuk seluruh kawasan Samudera Hindia , khususnya bagi daerah yang terkait dengan zona subduksi. "

 

Profesor McNeill menjelaskan bahwa subduksi pada marjin Sumatera Utara memiliki struktur yang tidak biasa dan morfologi yang kemungkinan dipengaruhi oleh sifat-sifat sedimen dan batuan yang membentuk margin.

"Meskipun pemahaman kita tentang struktur dan perkembangan ini marjin telah meningkat sangat besar sejak tahun 2004 karena pengumpulan data geofisika kelautan, namun demikian sangat sedikit yang diketahui tentang sifat-sifat bahan yang membentuk zona subduksi ini," lanjutnya. "Proyek ini akan menyelidiki bagaimana bahan yang masuk ke sistem menggerakkan gempa pada perairan dangkal dan mempengaruhi bentuk margin kontinental. Tujuan utama kami adalah untuk memahami potensi bahaya pada margin ini, dan juga pada daerah margin dan patahan lain dengan sifat material dan morfologi manrgin yang sama.
 

Peralatan yang digunakan dalam pengeboran (courtesy of JOIDES)
"Ekspedisi laut ini akan menjadi pertama kalinya yang melakukan pengeboran sumur bor ilmiah pada dasar laut di zona subduksi ini, termasuk lapisan sedimen yang akhirnya berkembang menjadi patahan yang menimbulkan gempa," Profesor Henstock menjelaskan. "kita dapat mengetahui asal-usul sedimen yang dari laut dalam atau asal darat, termasuk sedimen yang terkikis dari pegunungan Himalaya dan terbawa oleh aliran air hingga ribuan kilometer ke Teluk Benggala dan bagian timur Samudera Hindia. Tapi kita masih tidak tahu bagaimana sedimen menjadi berubah secara wujud fisik dan kimiawi , dan menjadi bagian lapisan sedimen dengan ketebalan 4-5 km di atas zona subduksi.

 
" Penenggelaman dan penumpukan sedimen serta peningkatan suhu turut mempengaruhi cairan yang berada dalam tumpukan sedimen, dan ini menjadi sangat penting bagi perilaku gempa sesar," Profesor Henstock menyimpulkan. "Sampling dan mengukur sifat dari material secara in situ dan kemudian ekstrapolasi karakteristik dari material tersebut terhadap kedalaman lapisan yang lebih besar menggunakan teknik pemodelan dan percobaan di laboratorium akan menjadi tujuan penting dari proyek ini."



Sumber: ScienceDaily

0 comments:

Post a Comment