| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Sunday, June 5, 2016

Penyu Hijau, Si Hewan Purba Penjelajah


Anda pasti sudah sering mendengar atau bahkan melihat dengan mata kepala sendiri tentang hewan ini. Penyu namanya. Tetapi masih ada yang salah kaprah menyamakan penyu dengan kura-kura darat.

Pada dasarnya ada perbedaan yang cukup mendasar tentang si penyu dan kura-kura , yaitu penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Ini berbeda dengan kura-kura yang kakinya berupa cakar, yang sangat berguna bagi si kura-kura untuk berjalan di bebatuan atau tanah di daratan.

Kura-kura banyak menghabiskan hidupnya di daratan dan perairan tawar, tidak seperti penyu yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan asin atau laut.

Gambar Kura-kura sulawesi yang perilakunya diamati juga saat gerhana matahari total terjadi. Foto: Rahmadi Rahmad



Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru.
Menurut beberapa penelitian, ditemukan bahwa penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh, tetapi dengan waktu yang tidak terlalu lama, yaitu  jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh dengan 58 sampai 73 hari saja.

Kepala kura-kura dapat dimasukkan atau disembunyikan ke dalam tubuhnya, sebagai sistem pertahanan tubuhnya jika merasa dalam bahaya. Sedangkan penyu tidak bisa. Sistem pertahanan penyu adalah kemampuan berenangnya yang cukup cepat di dalam laut.


 Penyu hijau (Chelonia mydas) , salah satu jenis penyu yang sering ditemukan di Pulau Derawan, Kaltim. Foto Wisuda

Di Indonesia ada beberapa jenis penyu, tetapi kali ini kita hanya membahas tentang si penyu hijau (Chelonia mydas) saja. Ini karena saya bertemu dan memotret hewan ini di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur yang memang banyak terdapat si penyu hijau.

Siklus bertelur penyu ini cukup beragam, yaitu bervariasi dari 2 sampai 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising serta cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu,
Lubang tempat si penyu bertelur pun digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.

Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Oleh sebab itu, penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.
Penyu hijau sendiri merupakan penyu yang sering ditemui, dibandingkan dengan penyu-penyu yang lainnya.
Dan penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.

Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan oleh seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (anakan penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa.
Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepitingburung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam. Walaupun, tetap saja, predator yang tercerdas dan terakus dari si penyu adalah manusia.

Beberapa waktu lalu, di Bali, penyu dipakai sebagai bagian dari upacara adat. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Ini karena keberadaan penyu yang semakin langka, sehingga masyarakat adat di pulau dewata, memutuskan untuk tidak menggunakan daging penyu lagi sebagai bagian dari upacara adat.
Karena itu, hukum yang jelas dan tegas, diperlukan untuk menjaga agar si penyu tetap ada dan lestari.

Di derawan, penyu hijau dapat dilihat dari pinggir dermaga saja. Ini karena keberadaanya di tanah Derawan sangat dilindungi. Selain sebagai aset pariwisata, penyu hijau di sana juga sudah menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, anak kecil Pulau Derawan terlihat berenang bersama di samping penyu hijau, tanpa si penyu takut.
Semoga keakraban dan perlindungan seperti ini, juga berlaku di pulau-pulau lainnya di Indonesia. Sehingga keberadaan penyu yang sudah ada sejak jaman purba ini tetap terjaga.



sumber: Mongabay Indonesia

0 comments:

Post a Comment