| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Friday, June 17, 2016

Ikan kakatua: saat sahabat menjadi pembunuh karang


Penelitian selama tiga tahun dilakukan untuk memahami dampak dari tekanan ekologi seperti penangkapan berlebih (Overfishing) dan pencemaran pada terumbu karang, para ilmuwan menghasilkan sebuah penemuan yang tak terduga: Sebuah simbiosis mutualisme antara ikan dan karang, kini telah berubah mematikan.



Dalam kondisi yang khas, ikan kakatua (parrotfish) - seperti banyak spesies lain - yang penting untuk kesehatan terumbu karang,
mereka menggigit untuk menghilangkan ganggang di sekitar terumbu karang, dan tidak menyebabkan kerusakan permanen. Namun, sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Deron Burkepile, seorang ahli ekologi dari Universitas California Santa Barbara  dan rekannya di Florida Keys menemukan bahwa 62 persen dari karang yang sebelumnya telah melemah oleh polusi nitrogen dan fosfor, menjadi mati ketika parrotfish menggigit mereka. Hasil ini dimuat dalam jurnal Nature Communications.



"sedikit saja predasi oleh ikan kakatua dapat berubah menjadi pembunuhan karang," kata Burkepile, asisten profesor di UCSB Departemen Ekologi, Evolusi, dan Biologi Kelautan. "Tapi masalahnya bukan di ikan kakatua, mereka hanya seperti petugas pembersih karang, menjaganya agar tetap bersih. Tetapi nutrien berlebih- atau disebut polusi nutrien- menjadikan kakatua sebagai sumber kematian dengan memfasilitasi patogen dalam luka yang ditinggalkan oleh gigitan mereka. Dalam hal ini kelebihan nutrien mengubah pelindung karang menjadi pembunuh karang. "



Para peneliti menemukan bahwa beberapa tekanan ekologi lokal dikombinasikan dengan pemanasan 
suhu lautan melemahkan karang sehingga patogen oportunistik meningkat ke tingkat yang dapat membunuh karang. "Ketika kita melihat pola bagaimana karang mati dalam percobaan kami, kami melihat kematian karang yang tinggi ketika kita menghapus ikan herbivora dari terumbu," kata Burkepile.

"Hal ini memungkinkan rumput laut tumbuh di samping karang dan bersaing dengan mereka (alga di terumbu), yang memperlambat laju pertumbuhan karang '," tambahnya. "Rumput laut juga mentransfer bakteri patogen langsung ke karang dari permukaan mereka, yang membuat karang sakit."


Peneliti dari enam lembaga melakukan percobaan selama tiga tahun yang disimulasikan dalam kondisi overfishing dan pencemaran nutrien pada terumbu karang. Mereka membangun exclosures untuk menjaga ikan herbivora jauh dari karang; di beberapa daerah karang, mereka menambahkan nutrien untuk meniru polusi nutrien untuk memahami peran relatif masing-masing skenario. sejumlah besar data lapangan yang dihasilkan dapat membantu menyelesaikan beberapa pertanyaan mendasar tentang penyebab penurunan terumbu karang.


"Ketika karang begitu lemah, mereka bahkan tidak dapat menahan tekanan normal," kata penulis yang sesuai Rebecca Vega Thurber, seorang asisten profesor di College of Science di Oregon State University (OSU). "Solusi ini akan membantu karang memulihkan kesehatan mereka dengan memastikan bahwa lingkungan lokal mereka bebas dari polusi nutrisi dan bahwa stok ikan juga tidak habis."




Temuan menjelaskan bahwa dalam menghadapi kenaikan temperatur lautan, beberapa peluang terbaik untuk melindungi terumbu karang terletak pada pengelolaan yang cermat dari penangkapan dan mengontrol kualitas air. Hal ini akan memberikan karang kesempatan terbaik mereka untuk memiliki microbiome yang sehat dan mampu melawan kondisi pemanasan suhu air tanpa harus sekarat (bleaching), menurut para peneliti.


"Kita perlu tahu bagaimana aktivitas manusia mempengaruhi ekosistem terumbu karang," kata David Garrison, direktur program di Divisi National Science Foundation Ocean Sciences, yang mendanai penelitian. "Terumbu karang adalah salah satu indikator yang paling sensitif dari kesehatan lautan. Laporan ini merupakan kontribusi besar untuk memahami bagaimana terumbu akan terjaga di masa depan."




sumber:  sciencedaily
diedit dari tulisan Julie Cohen

0 comments:

Post a Comment