| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Saturday, June 25, 2016

Tuna Sirip Kuning, Ikan yang Bernilai Tinggi


Sumber daya laut Indonesia memiliki potensi yang melimpah sehingga perairan Indonesia sering menjadi incaran banyak kapal asing yang bertujuan untuk mencuri ikan. Jenis ikan bernilai ekonomis tinggi yang banyak terdapat di perairan Indonesia salah satunya adalah tuna sirip kuning (tuna yellowfin). ikan ini cukup laku dipasaran Internasional dan lokal.

Tuna sirip kuning atau dikenal sebagai yellow fin tuna

Rasa yang enak dan citarasa gurih membuat Ikan tuna sirip kuning ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dibanding jenis ikan lain. Para penikmat hidangan ikan laut rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan ikan ini. Pasar tuna yellowfin terbesar adalah Jepang, Taiwan, Korea Selatan hingga Amerika Serikat.

 baca juga: http://www.satulaut.com/2016/06/walau-alergi-masih-bisa-koq-untuk.html

Tuna sirip kuning merupakan hidangan yang populer pada restoran kelas atas

Ikan tuna sirip kuning ini biasanya ditangkap menggunakan pancing. Nelayan yang mendapatkan ikan tuna sirip kuning dihargai sekitar 40 ribu per KG berat kotor ikan. Nilai ini bisa bertambah jika nelayan mendapatkan ikan dengan kualitas daging yang cukup baik. Umumnya satu ekor ikan dengan panjang sekitar 1 meter dapat berbobot 40-50 Kg. Sehingga satu ekor ikan ini bisa bernilai 2 Juta Rupiah. Lain hal nya jika mendapat ikan dengan kualitas super yang panjangnya bisa mencapai 1,5 meter, ikan ini bisa bernilai 100an juta Rupiah, dan akan lebih tinggi lagi pada pasaran internasional.

Aksi pencurian ikan yang dilakukan kapal ilegal asing memang sangat merugikan Indonesia. Indonesia kehilangan pendapatan US$ 20 miliar atau setara Rp 270 triliun  per tahun akibat tindakan ilegal tersebut, demikian laporan Bank Dunia.
Sekadar informasi tambahan, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar ikan tuna. Tuna yang biasa ditangkap di perairan Indonesia, antara lain jenis yellowfin tuna, big eye tuna atau biasa disebut tuna mata besar, albacore, dan southtern blue fin tuna.

Potensi tuna sirip kuning yang terbesar di Indonesia diperkirakan berada di Laut Flores dan Selat Makassar, dengan luas area penangkapan sekitar 605 ribu kilometer persegi (km2). Selebihnya, Ikan ini tersebar mulai dari utara Perairan Aceh hingga ke perairan Papua.

Friday, June 17, 2016

Ikan kakatua: saat sahabat menjadi pembunuh karang


Penelitian selama tiga tahun dilakukan untuk memahami dampak dari tekanan ekologi seperti penangkapan berlebih (Overfishing) dan pencemaran pada terumbu karang, para ilmuwan menghasilkan sebuah penemuan yang tak terduga: Sebuah simbiosis mutualisme antara ikan dan karang, kini telah berubah mematikan.



Dalam kondisi yang khas, ikan kakatua (parrotfish) - seperti banyak spesies lain - yang penting untuk kesehatan terumbu karang,
mereka menggigit untuk menghilangkan ganggang di sekitar terumbu karang, dan tidak menyebabkan kerusakan permanen. Namun, sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Deron Burkepile, seorang ahli ekologi dari Universitas California Santa Barbara  dan rekannya di Florida Keys menemukan bahwa 62 persen dari karang yang sebelumnya telah melemah oleh polusi nitrogen dan fosfor, menjadi mati ketika parrotfish menggigit mereka. Hasil ini dimuat dalam jurnal Nature Communications.


10 paus yang terdampar di Probolinggo mati


Sebanyak 10 ikan paus terdampar yang sudah mati tersebut tersebar di sejumlah pesisir pantai yakni Desa Randu Pitu, Desa Gending, Desa Dringu, dan Pantai Bentar



Sebanyak 10 ikan paus pilot dari puluhan ikan paus yang terdampar di pesisir pantai Desa Randu Pitu, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, akhirnya mati.

"Hingga siang ini kami mendapat informasi bahwa paus yang mati dan terdampar di sejumlah pesisir pantai Probolinggo sebanyak 10 ekor. Mudah-mudahan tidak ada lagi paus yang mati terdampar," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Probolinggo Deddy Isfandi saat dihubungi di Probolinggo, Kamis.

Puluhan ikan paus pilot yang panjangnya berukuran 3 meter hingga 5 meter terdampar di pesisir pantai Desa Randu Pitu, Rabu (15/6) siang dan hingga sore hari jumlah yang terdampar sebanyak 32 ekor, bahkan sebagian paus sudah dalam kondisi sakit dan sekarat saat terdampar.

"Sebanyak 10 ikan paus terdampar yang sudah mati tersebut tersebar di sejumlah pesisir pantai yakni Desa Randu Pitu, Desa Gending, Desa Dringu, dan Pantai Bentar. Padahal seluruh paus sudah digiring ke perairan yang lebih dalam," tuturnya.

Menurut dia, pihaknya bersama sejumlah petugas dari berbagai pihak dan masyarakat setempat melakukan evakuasi untuk menggiring ikan paus ke tengah perairan sejak Rabu (15/6) malam, namun masih saja ada ikan paus yang kembali ke pesisir pantai.

"Kami melakukan evakuasi menggiring puluhan paus ke tengah laut hingga Kamis dini hari, namun pada pagi hari ternyata masih ada 10 ikan paus yang kembali terdampar dan kondisinya sudah nyaris mati yang tersebar di sejumlah pantai," katanya.

Ia menjelaskan sejumlah peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) datang ke lokasi terdamparnya ikan paus dan masih melakukan penelitian terhadap bangkai paus yang mati tersebut untuk mengetahui penyebab kematian paus pilot itu.

"Setelah proses penelitian selesai, maka bangkai paus akan dikuburkan di sekitar pesisir pantai terdamparnya ikan paus tersebut," katanya menambahkan.

Sementara Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo BKSDA Jatim Andik Sumarsono mengatakan petugas terus melakukan pemantauan di pesisir pantai Probolinggo yang menjadi lokasi terdamparnya puluhan ikan paus tersebut.

"Kami terus pantau, agar tidak ada lagi ikan paus yang terdampar di sana. Kalau ada ikan paus yang terdampar, maka upaya evakuasi menggiring ke tengah laut bisa dilakukan secepatnya," tuturnya.


sumber: AntaraNews

Thursday, June 16, 2016

Lebih Dari 32 Paus Terdampar di Pesisir Probolinggo


Puluhan paus yang panjangnya berukuran 3-5 meter terdampar di pesisir pantai Desa Randu Pitu, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu siang.





"Nelayan dan warga setempat yang pertama kali melihat puluhan paus terdampar pada pukul 13.00 WIB, kemudian melaporkan hal tersebut kepada petugas," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Deddy Isfandi saat dihubungi di Probolinggo, Rabu malam.

Menurutnya, puluhan paus yang terdampar tersebut terlihat lemah dan sebagian dalam kondisi sekarat karena hanya sebagian tubuh mereka yang terendam air laut di pesisir pantai desa setempat.

"Petugas dan warga sekitar berusaha mengusir dan mendorong paus yang masih aktif bergerak menuju ke perairan yang lebih dalam, sehingga sebagian paus kembali ke perairan dan sisanya masih terjebak di pantai," tuturnya.

Hingga Rabu malam jumlah paus yang masih terdampar di pesisir pantai Desa Randu Pitu sebanyak 32 ekor dalam kondisi yang lemah, namun pihak Diskanla dan instansi yang terkait melokalisir kawasan itu dari warga sekitar yang menonton.

"Kami bersama perangkat desa dan muspika melokalisir pantai, agar warga tidak mengganggu puluhan paus yang sedang terdampar tersebut dan tubuh ikan paus diusahakan tetap terendam air laut yang kini mulai pasang," katanya.

Ia menjelaskan pihaknya masih menunggu kedatangan petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang dalam perjalanan menuju Probolinggo untuk melakukan identifikasi jenis ikan paus yang terdampar dan upaya penyelamatan mamalia laut tersebut.

"Kalau melihat dari bentuknya, sepertinya yang terdampar adalah ikan paus pilot, namun kalau dugaan saya salah, nanti bisa dikoreksi. Jenis ikan paus itu hampir tidak pernah melintas di perairan Probolinggo," ujarnya.



Saat diperiksa oleh petugas, lanjut dia, tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik di tubuh paus tersebut, namun dugaan sementara puluhan paus yang terdampar menderita sakit karena berbagai hal.




"Terdamparnya puluhan ikan paus baru kali ini terjadi di pesisir pantai Probolinggo karena biasanya paling banyak delapan ekor. Berdasarkan keterangan sejumlah ahli yang pernah saya dapat, biasanya paus yang terdampar ke pantai karena dalam kondisi sakit," katanya menambahkan.

Sementara informasi yang dihimpun menyebutkan terdamparnya puluhan paus di pesisir pantai Probolinggo karena cuaca ekstrim yang terjadi selama beberapa terakhir.

baca juga: Dunia Paus dan Lumba-Lumba

sebagai informasi tambahan, paus dikenal sebagai mamalia laut, dan tidak termasuk dalam kategori ikan.




sumber; AntaraNews

Wednesday, June 15, 2016

VIDEO: Mengamati Penyu dari Satelit


penyu sepertinya cenderung akan berenang melawan arus. Telah lama terancam oleh perburuan, kehilangan habitat dan polusi, penjelajah laut kuno ini sekarang menghadapi gejolak besar dimana dunia laut mereka memanas.



peneliti WWF telah melacak penyu menggunakan satelit untuk menemukan bagaimana migrasi dari hewan kuno ini yang mungkin akan terpengaruh oleh laut yang lebih menghangat. Dan hasilnya ternyata mampu membuka mata kita. Selama musim panas di Teluk Arab, penyu meninggalkan tempat makan mereka karena suhu air yang melambung hingga ke 35 ° C atau lebih. Mereka menuju iklim yang lebih dingin, dan hanya kembali ketika suhu turun.



Studi ini menunjukkan bahwa penyu laut di bagian dunia laut lainnya mungkin terpaksa untuk mengubah kebiasaan mereka. Sangat sulit untuk mengetahui bagaimana mereka akan mengatasi hal ini. Namun berkat pelacakan satelit, ahli biologi WWF dapat menentukan bidang utama yang membutuhkan perlindungan - baik sekarang dan di masa depan. Informasi penting yang akan membantu untuk memastikan kelangsungan hidup spesies yang luar biasa.
 

Safeguarding sea turtles



 sumber: WWF

NEW PRIOK: Beroperasi Penuh Juli 2016, Kurangi Ketergantungan pada Singapura


PT Pelindo 2 atau IPC menargetkan terminal peti kemas New Priok 1 bisa beroperasi penuh pada 15 Juli 2016 mendatang.

 

JMOL-Direktur Operasi dan Sistem Informasi IPC Prasetyadi mengatakan New Priok Container Terminal 1 (NPCT 1) adalah satu dari tiga terminal New Priok yang akan dibangun, yang ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pelabuhan Indonesia terhadap pelabuhan Singapura.

NPCT 1 memiliki luas 32 ha dan bisa menangani peti kemas hingga 1,5 juta TEUs/tahun. Selain itu, NPCT 1 memiliki panjang dermaga 850 meter yang bisa menampung hingga dua kapal besar tipe New Panamax (mother vessels) berkapasitas 10.000 TEUs serta satu kapal penghubung (feeder).
Dengan begitu, kapal-kapal besar (mother vessels) dapat langsung ke Jakarta dari rute utama pelabuhan-pelabuhan besar di seluruh dunia yang bisa mengurangi ongkos logistik.

Saat ini, sebagian besar operasional Tanjung Priok hanya disandari kapal-kapal feeder berkapasitas 1500 TEUs yang meneruskan barang-barang dari kapal besar (mother vessels) dari pelabuhan Singapura. Adanya New Priok diharapkan bisa mengubah pola tersebut dengan menyiapkan pelabuhan transit untuk kapal-kapal besar (mother vessels) di Jakarta.

“Kami telah melakukan uji coba terminal baru ini untuk menyinkronkan semua prosedur ekspor-impor dan sistem,” terang Prasetyadi.
Sebagaimana diketahui, pada 28 Mei lalu telah dilakukan uji coba pertama operasional NPCT 1 dengan kapal Sinar Sumba milik perusahaan pelayaran PT Samudra Indonesia Shipping Line. Uji coba dilakukan untuk melihat kesiapan integrasi infrastruktur, logistik, dan terminal sistem, termasuk sistem karantina dan kepabeanan.

“Tes berikutnya akan dilakukan pada awal Juli mendatang. Kami berharap kita memiliki cukup waktu untuk melakukan penyesuaian jika masalah timbul. Mudah-mudahan, kita bisa mulai beroperasi penuh pada 15 Juli,” ungkap Prasetyadi.



sumber: JMOL

DAFTAR JURNAL NASIONAL BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN



Dalam bidang kajian ilmiah, temuan dan paparan dari hasil penelitian perlu dipublikasikan. Namun menulis jurnal biasanya dituntut untuk sistematis, dan setiap penerbit jurnal biasanya memiliki prosedur tertentu yang harus diikuti sebelum jurnal dapat disubmit.
Sebenarnya menulis jurnal dapat mengembangkan pemikiran yang kreatif dan sistematis. Menulis jurnal juga dapat mengembangkan jejaring dan keterkaitan dengan para pakar pada bidang sejawat. Dimulai dari manyadur hasil penelitian lain yang terkait sebagai referensi dalam penulisan jurnal. Selanjutnya terhubung dengan reviewer yang akan mereview draft jurnal. Biasanya pihak pengelola jurnal akan menunjuk pakar  yang memiliki kapabilitas yang sesuai dengan bidang kajian. Setelah diterbitkan, jurnal akan dibaca oleh banyak pihak lain yang memiliki bidang minat kajian yang sama. Pada akhirnya, proses tersebut menuntut penulis untuk menghindari plagiarism dan jujur terhadap hasil penelitiannya.
Adapun jurnal yang terkait dengan topik kajian kelautan dan perikanan tidak sebanyak jurnal di bidang kajian lainnya, seperti hukum, ekonomi, kependidikan, pertanian dan lainnya. Untuk itu  di sini kita akan memberikan informasi sejumlah jurnal yang terkait dengan bidang kelautan dan perikanan, baik jurnal nasional yang memiliki akreditasi nasional oleh DIKTI (sekarang RISTEKDIKTI) atau pun jurnal nasional tidak terakreditasi.

Sunday, June 5, 2016

Penyu Hijau, Si Hewan Purba Penjelajah


Anda pasti sudah sering mendengar atau bahkan melihat dengan mata kepala sendiri tentang hewan ini. Penyu namanya. Tetapi masih ada yang salah kaprah menyamakan penyu dengan kura-kura darat.

Pada dasarnya ada perbedaan yang cukup mendasar tentang si penyu dan kura-kura , yaitu penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Ini berbeda dengan kura-kura yang kakinya berupa cakar, yang sangat berguna bagi si kura-kura untuk berjalan di bebatuan atau tanah di daratan.

Kura-kura banyak menghabiskan hidupnya di daratan dan perairan tawar, tidak seperti penyu yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan asin atau laut.

Gambar Kura-kura sulawesi yang perilakunya diamati juga saat gerhana matahari total terjadi. Foto: Rahmadi Rahmad



Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru.
Menurut beberapa penelitian, ditemukan bahwa penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh, tetapi dengan waktu yang tidak terlalu lama, yaitu  jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh dengan 58 sampai 73 hari saja.

Kepala kura-kura dapat dimasukkan atau disembunyikan ke dalam tubuhnya, sebagai sistem pertahanan tubuhnya jika merasa dalam bahaya. Sedangkan penyu tidak bisa. Sistem pertahanan penyu adalah kemampuan berenangnya yang cukup cepat di dalam laut.


 Penyu hijau (Chelonia mydas) , salah satu jenis penyu yang sering ditemukan di Pulau Derawan, Kaltim. Foto Wisuda

Di Indonesia ada beberapa jenis penyu, tetapi kali ini kita hanya membahas tentang si penyu hijau (Chelonia mydas) saja. Ini karena saya bertemu dan memotret hewan ini di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur yang memang banyak terdapat si penyu hijau.

Siklus bertelur penyu ini cukup beragam, yaitu bervariasi dari 2 sampai 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising serta cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu,
Lubang tempat si penyu bertelur pun digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.

Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Oleh sebab itu, penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.
Penyu hijau sendiri merupakan penyu yang sering ditemui, dibandingkan dengan penyu-penyu yang lainnya.
Dan penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.

Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan oleh seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (anakan penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa.
Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepitingburung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam. Walaupun, tetap saja, predator yang tercerdas dan terakus dari si penyu adalah manusia.

Beberapa waktu lalu, di Bali, penyu dipakai sebagai bagian dari upacara adat. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Ini karena keberadaan penyu yang semakin langka, sehingga masyarakat adat di pulau dewata, memutuskan untuk tidak menggunakan daging penyu lagi sebagai bagian dari upacara adat.
Karena itu, hukum yang jelas dan tegas, diperlukan untuk menjaga agar si penyu tetap ada dan lestari.

Di derawan, penyu hijau dapat dilihat dari pinggir dermaga saja. Ini karena keberadaanya di tanah Derawan sangat dilindungi. Selain sebagai aset pariwisata, penyu hijau di sana juga sudah menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, anak kecil Pulau Derawan terlihat berenang bersama di samping penyu hijau, tanpa si penyu takut.
Semoga keakraban dan perlindungan seperti ini, juga berlaku di pulau-pulau lainnya di Indonesia. Sehingga keberadaan penyu yang sudah ada sejak jaman purba ini tetap terjaga.



sumber: Mongabay Indonesia

KKP dan WCS Melapaskan Hiu Paus Yang Ditangkap Ilegal


Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama dengan Wildlife Crimes Unit (WCU) dari Wildlife Conservation Society (WCS), akhirnya melepaskan kembali ke lautan lepas dua hiu paus ditangkap secara ilegal dari pemasok utama megafauna laut besar untuk perdagangan satwa internasional. Pelepasliaran dilakukan pada Jumat (27/05/2016).

Gambar Hiu paus (Rhincodon typus) yang ditangkap illegal dilepasliarkan kembali ke laut dari karamba jaring apung milik PT. Air Biru Maluku, di dekat Pulau Kasumba, Maluku. Sebelumnya, aparat menggerebeg tempat tersebut. Foto : Paul Hilton / WCS


Penyelidikan ini dipimpin oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Ambon dan Perikanan Labuan Lombok dan Tim Satgas KKP, serta Patroli Maritim dari Polda Maluku.

Hiu paus (Rhincodon typus) adalah spesies yang dilindungi di Indonesia dan terdaftar sebagai terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). perdagangan internasional hiu paus diatur dalam CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah).

“Penggerebegan ini merupakan bukti dedikasi pemerintah Indonesia, hasil kerja WCU, dan kemitraan yang telah dibangun WCU di seluruh Indonesia untuk memerangi perdagangan ilegal megafauna laut terancam di Indonesia. Selama 2016, WCU telah mendukung 7 kasus kelautan yang melibatkan piring manta, kerang laut, penyu, dan hiu paus,” kata Country Director WCS Noviar Andayani dalam rilis WCU WCS yang diterima Mongabay.


Perusahaan PT. Air Biru Maluku, yang dimiliki oleh seorang perwira menengah Indonesia militer dan seorang warga Singapura, menangkap dua hiu paus, sekitar setiap 4 meter, dekat pulau Kasumba di provinsi Maluku di Indonesia Timur. Penggerebegan berlangsung di karamba jarring apung di fasilitas yang dikelola oleh PT. Air Biru Maluku pada Pulau Kasumba.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan dua hiu paus itu sudah tiga bulan berada di KJA tersebut. Diduga, kedua ikan itu akan dikirim dalam keadaan hidup ke negara lain. Dugaan itu muncul, karena ikan hiu paus selama ini banyak dimanfaatkan untuk akuarium raksasa di seluruh dunia.

“Ini sangat aneh, kenapa ikan yang dilindungi statusnya bisa dipelihara di keramba. Mereka harus dipidanakan,” ucap Susi saat memberi keterangan pers di Jakarta, Jumat (26/05/2016).

Menurut dia, sesuai Kepmen No.18/2013, ikan hiu paus menjadi salah satu biota laut yang statusnya dilindungi bersama pari manta. Dengan status tersebut, kata dia, seharusnya, siapapun harus berpikir ulang jika ingin memanfaatkannya secara langsung.

“Jangankan dikirim hidup, dikonsumsi saja tidak boleh. Ini kan aneh,” ucap dia.
Dengan ditemukannya kasus tersebut, Susi menduga, hingga saat ini masih banyak oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan ikan dilindungi untuk kepentingan pribadi mereka. Jika itu terus dibiarkan, maka ancaman kepunahan tidak dapat dihindari lagi.

“Dengan diberikan status perlindungan saja, ancaman kepunahan tetap ada. Padahal, seharusnya dengan status tersebut, siapapun bisa paham bahwa ikan tersebut tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apapun,” tutur dia.
“Ikan hiu paus ini bersama pari manta sekarang dilindungi dan statusnya masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN),” tambah dia.

Susi menerangkan, perbuatan tersebut melanggar Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang No.31 Tahun 2004 tentang Perikanan serta Kepmen No.18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus).
Karena itu adalah perbuatan ilegal, menurut Susi, pelaku akan dijerat sanksi pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp1,5 miliar.

Setelah terbukti ada dua ekor ikan hiu di keramba, KKP selanjutnya akan melakukan penyidikan yang dilakukan oleh Satker PSDKP Ambon. Kemudian, untuk menghindari kematian ikan hiu paus tersebut, KKP akan melakukan pelepasliaran kedua ekor tersebut ke lautan lepas.


 Sumber: Mongabay Indonesia

Kenaikan Permukaan Air Laut Melenyapkan Lima Pulau di Solomon, Samudera Pasifik


Sebanyak lima pulau di Kepulauan Solomon hilang sepenuhnya akibat terendam air laut. Hal ini menjadi sinyal bahaya bagi dataran rendah di seluruh dunia.


Permukaan air laut di Kepulauan Solomon naik 7 milimeter setiap tahun dalam dua dekade terakhir. Dua faktor yang melatari hal ini adalah pemanasan global dan angin pasat yang bertambah kuat .
Simon Albert dari Universitas Queensland mengatakan, ada latar belakang dari tingkat kenaikan permukaan air laut global, dan kemudian tekanan tambahan dari siklus angin pasat alami, yang secara fisik mendorong air ke Pasifik Barat.”

Albert melanjutkan, rata-rata kenaikan permukaan air laut global adalah 3 milimeter per tahun, tapi terdapat kemungkinan bahwa akan terjadi kenaikan sampai 7 milimeter pada akhir abad ini. “Seperti peningkatan suhu lelehan es dan menyebabkan ekspansi termal air laut.”

 
 (peta sumber: CNN)

“Semua proyeksi menunjukkan bahwa pada paruh kedua abad ini, sisa dunia akan mencapai tingkat kenaikan permukaan air laut sama seperti yang dialami Kepulauan Solomon saat ini,” jelas Albert.
Albert beserta rekan-rekannya menganalisis citra satelit dan udara dari tahun 1947-2014 untuk mempelajari efek rayapan permukaan air laut pada garis pantai dari 33 pulau karang di Kepulauan Solomon.

Lima pulau yang menghilang tersebut, pada tahun 1947 berukuran mulai dari 1 sampai 5 hektar. Namun pada 2014, kelima pulau sudah benar-benar terendam air laut.

Enam pulau lain telah menyusut sebesar 20-60 persen pada periode yang sama.
Pulau dengan penduduk terpadat saat ini, Nutuambu, merupakan rumah bagi 25 keluarga. Sejak 2011,air laut telah merendam 11 rumah di pulau ini.

Selain manusia, hewan-hewan di wilayah ini juga terancam keberadaannya. Bahkan menurut Albert, hewan-hewan bersarang seperti penyu dan burung terancam punah akibat kenaikan air laut di Kepulauan Solomon tersebut.


sumber: NationalGeographic Indonesia

Setiap Hiu Punya Kepribadian yang Berbeda


Hiu telah dicap sebagai pengganggu nan pemarah yang berasal dari laut, namun sebenarnya tidak semua dari mereka hidup dengan reputasi buruk ini

 

Hiu telah dicap sebagai pengganggu nan pemarah yang berasal dari laut, namun sebenarnya tidak semua dari mereka hidup dengan reputasi buruk ini. Menurut penelitian terbaru, hiu benar-benar memiliki sifat yang khas, dan bertentangan dengan status mereka sebagai tak kenal takut dan pembunuh berdarah dingin. Beberapa hiu sebenarnya jauh lebih pemalu dan rentan stres daripada yang lain.

(Baca juga: Apakah Hiu Jahat? Pikir Lagi Deh!)

Bahasan terkait hiu yang bersikap bingung mungkin terdengar aneh, namun menurut peneliti Evan Byrnes justru sebaliknya. Tidak bisa disamakan, hiu memiliki sifat berbeda satu sama lain. "Hiu bukan hanya mesin yang tak ada artinya. Sama seperti manusia, setiap hiu adalah individu dengan preferensi dan perilaku yang unik," ungkap Byrnes.

Byrnes dan rekan-rekannya sampai pada kesimpulan ini setelah melakukan serangkaian percobaan, menggunakan 17 hiu remaja di Port Jackson. Lokasi percobaan dirancang untuk memperoleh wawasan terkait temperamen binatang.

Percobaan pertama menempatkan hiu dalam kotak perlindungan berupa tangka. Peneliti mencari tahu berapa lama waktu mereka untuk berani keluar dari kotak dan menjelajahi daerah terbuka lingkungan baru mereka.
Tujuan dari latihan ini adalah untuk mengukur keberanian dan kemauan hiu dalam mengambil risiko. Menariknya, para peneliti menemukan bahwa hiu yang lebih besar cenderung lebih berani daripada hiu kecil. Hiu besar mengambil sedikit waktu untuk meninggalkan n kotak mereka. Ini akan tampak bertentangan dengan teori yang sudah ada tertentu yang berpendapat bahwa, di antara predator puncak, individu yang lebih kecil cenderung lebih berani dan lebih agresif, karena mereka umumnya harus lebih kompetitif untuk bertahan hidup.

Selanjutnya, penulis studi yang menguji tingkat stress hiu. Hiu dipindahkan dari tangkinya dan dipegang secara fisik oleh tangan para peneliti selama satu menit, sebelum dikembalikan ke tangki. Penenliti mengukur berapa lama waktu setiap hiu untuk pulih dari episode stres ini dan kembali ke tingkat aktivitas normal.

Hasil yang diterbitkan dalam Journal of Fish Biology menunjukkan bahwa hiu yang paling berani dalam tes pertama juga ternyata menjadi yang pertama pulih dari stres dalam percobaan kedua ini. Menguatkan bahwa hiu memiliki sifat berbeda satu sama lain.



Menurut Byrnes, temuan ini bisa memiliki implikasi besar bagi upaya konservasi hiu. "Memahami bagaimana sifat mempengaruhi variasi dalam perilaku hiu, seperti pilihan mangsa, penggunaan habitat, dan tingkat aktivitas sangat penting untuk mengelola predator atas, yang memainkan peran ekologi penting dalam ekosistem laut," katanya dalam sebuah pernyataan.


sumber: NationalGeographic Indonesia

Saturday, June 4, 2016

Bahaya!! Ikan di Indonesia Gemar Makan Plastik


Peneliti Swedia mengibaratkan ikan muda yang kecanduan makan plastik di laut sama seperti remaja yang memilih makan cepat saji yang tak sehat. Penelitian mereka menemukan paparan polystyrene (sejenis plastik) dengan konsentrasi tinggi yang membuat larva ikan kakap putih lebih suka plastik ketimbang makanan natural. Akibat paparan plastik, larva ikan menjadi lebih kecil, lamban, dan rentan menjadi santapan predator.

Penelitian ini rampung tahun lalu, dengan perkiraan 8 juta ton plastik mencemari laut setiap tahunnya. Saat terkena radiasi ultraviolet, degradasi kimia, dan pergerakan ombak, plastik akan terpecah menjadi sangat kecil. Pecahan ini berukuran lebih kecil dari lima milimeter yang disebut sebagai mikroplastik. Ini juga berlaku untuk plastik microbeads dan produk perawatan tubuh.

“Ini mengkhawatirkan karena bisa menambah isi perut makhluk laut dan mencemarinya dengan racun kimia,” kata Oona Lonnstedt, peneliti dari Uppsala University, Swedia.

Untuk melihat dampak mikroplastik pada ikan usia dini, peneliti memberi konsentrasi polystyrene berbeda di dua kolam air. Sebanyak 96 persen telur menetas dengan ketiadaan mikroplastik. Sebaliknya, keberadaan mikroplastik di kolam lain menurunkan penetasan menjadi 81 persen.

Lonnstedt mengatakan telur yang menetas di air tercemar memiliki tubuh lebih kecil, lamban, dan bodoh ketimbang yang menetas di air bersih. Saat ada predator, separuh ikan muda dari air bersih akan bertahan 24 jam. Kondisi berbeda terjadi pada ikan yang menetas di air tercemar, semua langsung menjadi konsumsi predator.


(Baca juga: Lautan Indonesia, penyumbang sampah terbesar kedua di dunia)


Hal yang tak terduga adalah plastik menjadi pilihan makanan ikan-ikan muda. “Mereka punya pilihan yang lebih baik, yakni zooplankton. Namun mereka tetap memilih memakan plastik,” kata Loonstedt.

Peneliti melihat ada tanda kimia atau fisik tertentu pada plastik yang memicu ikan untuk memilihnya. Ikan muda tertipu dan merasa plastik adalah sumber energi tinggi yang harus banyak dikonsumsi. “Sama saja dengan makanan cepat saji yang dipilih remaja, mereka mengisi perutnya sendiri dengan makanan tak sehat,” kata Loonstedt.



(Baca juga: Lautan Kini Menjadi Tempat Pembuangan Akhir Sampah)

Loonstedt menghubungkan penelitiannya dengan berkurangnya jumlah spesies beberapa jenis ikan di Laut Baltik selama dua dekade terakhir. Berkurangnya jumlah spesies ini diduga akibat meningkatnya kematian ikan di usia muda. Mereka berpendapat plastik mempengaruhi beberapa ikan sejak awal hidupnya. “Ini bisa berdampak besar pada ekosistem,” katanya.

sumber: Tempo | BBC

Lautan Indonesia, penyumbang sampah terbesar kedua di dunia


Penelitian oleh Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang diterbitkan tahun lalu menyebutkan lautan Indonesia merupakan tempat ditemukannya sampah plastik terbesar kedua di dunia.
R. Sudirman, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan fakta ini memalukan.

(Baca juga: Lautan Kini Menjadi Tempat Pembuangan Akhir Sampah)


"Kita malu, Berita di media bahwa Indonesia penyumbang sampah terbesar ke laut nomor dua setelah Cina, malu kita,”

(Baca juga: ISKINDO: Kebijakan Pencemaran Laut dan Pesisir)

Penelitian lain oleh Conservancy tentang pasar ikan menyebutan dari data di seluruh dunia, 28% ikan Indonesia mengandung plastik.


sumber: BBC Indonesia

Friday, June 3, 2016

Hidup Dekat Pantai itu Sehat dan Menyenangkan


Berbahagialah ! Kesehatan mental Anda akan meningkat, terkhusus bagi Anda yang tinggal di dekat pemandangan lepas pantai.

 

Anda senang menikmati pergi berjalan-jalan di tepi laut atau melihat laut lepas dari pantai berpasir ? Berbahagialah ! Kesehatan mental Anda akan meningkat, terkhusus bagi Anda yang tinggal di dekat pemandangan lepas pantai.
Penelitian diterbitkan dalam edisi bulanan jurnal Health & Place, menemukan bahwa hidup di dekat pemandangan laut dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik.

Peneliti dari University of Canterbury di Selandia Baru dan Michigan State University melihat visibilitas ruang biru dan hijau bagi warga di Wellington, Selandia Baru. Ruang biru didefinisikan sebagai daerah air seperti pantai dan lautan, sementara ruang hijau daerah-daerah seperti taman dan hutan. Meskipun Wellington adalah ibukota perkotaan, namun terletak di sebelah Laut Tasman dan Samudera Pasifik.
Para peneliti kemudian membandingkan data topografi dengan informasi Survei Kesehatan Selandia Baru, yang digunakan untuk menilai kecemasan dan gangguan suasana hati.

Setelah memperhitungkan faktor-faktor lain seperti pendapatan, usia, dan jenis kelamin, mereka menemukan korelasi positif antara orang-orang yang memiliki rumah dengan pemandangan laut dan kesehatan mental. Namun, jika Anda berpikir bahwa efek yang sama dengan pemandangan alam hijau, ternyata salah ! Penelitian ini secara khusus menemukan bahwa ruang hijau tidak memiliki efek yang sama.

"Bisa jadi karena ruang biru itu semua alami, sementara ruang hijau termasuk daerah buatan manusia, seperti bidang olahraga dan taman bermain, serta daerah-daerah alami seperti hutan asli. Mungkin jika kami hanya melihat hutan asli, mungkin menemukan sesuatu yang berbeda," ungkap Amber Pearson, rekan penulis studi.
 
Para peneliti berharap untuk lebih memahami masalah ini dengan melakukan penelitian serupa di daerah-daerah denngan pelabuhan tipe lain, seperti Great Lakes. Akhirnya, mereka berharap bahwa pemahaman yang lebih komprehensif dari lingkungan sekitar kita dan efeknya pada kesehatan dapat membantu memandu perencanaan kota yang lebih efektif.


sumber: NationalGeographic Indonesia

"Bau Laut" Ternyata Bantu Kurangi Dampak Perubahan Iklim


"Bau laut" yang dihasilkan oleh mikroorganisme laut ternyata bisa memainkan peran penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Para ilmuwan menemukan bagaimana “bau laut” yang diproduksi oleh mikroorganisme laut memegang peranan penting dalam melawan perubahan iklim.
Mikroba tersebut saangaat kecil, sehingga sekitar setengah juta individu itu dapat ditemukan hanya dalam satu sendok teh air laut.

Jumlah mereka juga sangat banyak. Mikroba yang merupakan salah satu jenis makhluk hidup yang paling berlimpah ini memiliki dampak signifikan terhadap iklim Bumi.
Dalam jurnal penelitian Nature Microbiology, ilmuwan dari Inggris, Amerika Serikat dan Tiongkok mengatakan bahwa mikroba yang bernama Pelagibacterales ini menghasilkan sejumlah besar dua jenis gas belerang.

“Semua orang tahu gas ini melalui baunya,” ujar Steve Giovannoni, profesor mikrobiologi di Oregon State University yang tergabung dalam tim peneliti.

“Salah satu senyawa ini, dimetilsulfida atau DMS, kita kenal sebagai bau laut,” lanjutnya.
Gas lainnya, methanethiol, sering kita kira sebagai gas yang bocor dari pipa saluran gas. Di atmosfer, DMS mengoksidasi asam sulfat. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa asam sulfat dapat membantu pembentukan awan sehingga mengurangi pemanasan Bumi.

Awan diyakini memiliki peran signifikan dalam iklim Bumi karena dapat memantulkan sinar Matahari. Sementara itu, mereka juga berperan sebagai ‘selimut’, menjaga planet tetap hangat, mereka juga memiliki efek pendinginan secara keseluruhan.  Terdapat kontroversi di antara beberapa ilmuwan, bahwa membuat awan buatan dapat membantu mengurangi pemanasan global.
Jonathan Todd, Doktor dari East Anglia University yang juga ambil bagian dalam penelitian, mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi gen yang terlibat produksi gas.

“Kami mempelajari dari tingkat genetik molekuler untuk menemukan bagaimana persisnya mikroba menghasilkan DMS yang dikenal untuk merangsang pembentukan awan,” ujarnya.
Todd menuturkan, Gas DMS yang dihasilkan mungkin berperan dalam mengatur iklim dengan meningkatkan jumlah awan yang pada gilirannya dapat mengurangi jumlah sinar matahari ke permukaan Bumi.

Anggota tim yang lain, Dr Emily Fowler, menambahkan, “Menariknya, c ara Pelagibacterales ,menghasilkan DMS adalah melalui enzim yang sebelumnya tak diketahui, dan kami menemukan enzim yang sama juga ada di spesies bakteri laut yang jumlahnya melimpah.”

“Kita seringkali meremehkan kontribusi mikroba untuk memproduksi gas penting ini,” katanya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Pelagibacterales mungkin merupakan komponen penting dalam stabilitas iklim. “Jika kita akan meningkatkan model bagaimana DMS menjaga stabilitas iklim, kita harus mempertimbangkan organisme ini sebagai kontributor utama,” pungkas Fowler.



sumber: Lutfi Fauziah/ National Geographic Indonesia

Facebook dan Microsoft akan Pasang Kabel Data Bawah Laut di Samudera Atlantik


Microsoft dan Facebook mengumumkan langkah itu hari Kamis (26/5) dan menyebut kabel sepanjang 6,600 kilometer itu 'MAREA'.


Microsoft Corporation dan Facebook Inc. telah sepakat untuk membangun kabel di bawah laut di Lautan Atlantik untuk memenuhi permintaan internet berkecepatan tinggi dan layanan “cloud”.

Microsoft dan Facebook mengumumkan langkah itu hari Kamis (26/5) dan menyebut kabel sepanjang 6.600 kilometer itu “MAREA”, nama yang diambil dari kata Spanyol yang berarti “gelombang” dan akan membentang dari negara bagian Pantai Timur Amerika, Virgina sampai ke Bilbao, Spanyol. Dari Spanyol kabel itu akan dihubungkan dengan pusat-pusat jaringan di Afrika, Asia, Timur Tengah dan bagian-bagian lain Eropa.

Perusahaan itu mengatakan pemasangan kabel itu akan dimulai bulan Agustus ini dan berakhir bulan Oktober 2017. Kabel itu diperkirakan akan mempunyai kapasitas 160 terabitsper detik, sekitar 16 juta kali lebih cepatdari sambungan internet di rumah-rumah di Amerika.
Pengumuman tersebut disampaikan hampir dua tahun setelah Google mengumumkan kesepakatan serupa dengan lima perusahaan Asia untuk memasang kabel jaringan trans-Pasifik yang menghubungkan Amerika dengan Jepang.
 
Pusat-pusat data di bawah laut juga dianggap sebagai kemungkinan untuk menyimpan dan mengelola data dalam jumlah teramat besar dengan menggunakan sumber daya energi laut supaya tetap dingin.


sumber: voaindonesia

Mahasiswa Ilmu Kelautan IPB Eksplorasi Potensi Bioaktif Biota Laut Kratatau



Mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Tio Wibisono, AT Mahadi, Tri Nur Sujatmiko, Paradita Hasanah, Willy Angraini, Akbar Habibie, Maysell Riasnasari, dan Sunita Ayu Purnamaningsi melakukan penelitian di Krakatau (14-17/4). Mereka tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dibimbing oleh Dr. Nevianty P. Zamani. Tujuan kegiatan ini adalah eksplorasi biota laut seperti soft coral dan spons untuk menguak potensi sebagai sumber obat-obatan.
 
Krakatau merupakan salah satu cagar alam di Indonesia dengan gugusan pulau Krakatau yang terdiri atas beberapa pulau, diantaranya Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang dan Anak Gunung Krakatau. Anak Gunung Krakatau salah satu contoh gunung berapi yang muncul dari lautan di Indonesia. Hal ini menyebabkan kawasan Cagar Alam Krakatau memiliki keunikan untuk diteliti lebih jauh.

 Kegiatan ekplorasi keanekaragaman Krakatau terus dikembangkan begitu pula dengan mahasiswa dari Departemen ITK untuk mengadakan penelitian yang akan diikutsertakan dalam ajang kompetisi PKM. “Semoga kegiatan penelitian ini dapat bermanfaat dalam pengembangan eksplorasi sumberdaya alam di Indonesia,” ujar Tio

Migas Laut dalam memiliki potensi besar, tapi...


Norwegia merupakan salah satu negara yang sukses mengembangkan potensi migas laut dalam. Padahal, kondisi lapangan migas di negara tersebut sangat sulit dijangkau. 

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I.G.N Wiratmaja Puja mengaku ladang migas laut dalam di Timur Indonesia masih jarang diminati pelaku usaha hulu migas. Padahal, potensi migas di wilayah tersebut cukup besar.

"Kemarin saya presentasi di London. Mereka kaget, kenapa selama ini laut dalam kita tidak banyak yang tengok," kata dia dalam konferensi pers saat forum tahunan pelaku usaha migas IPA di JCC Jakarta, Rabu (25/5).

Dia mencontohkan Norwegia, negara yang sukses mengembangkan potensi migas laut dalam. Banyak investor yang mau menanamkan modalnya di negara tersebt. Padahal, Norwegia memiliki kondisi laut dalam yang sangat sulit dijangkau untuk kegiatan operasi migas.
Wiratmaja mengakui bahwa kesuksesan Norwegia ini tidak lepas dari peran pemerintah yang membuat investor tertarik menanamkan modalnya. Saat ini pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah insentif agar investasi migas laut dalam di Indonesia bisa lebih kompetitif.
Salah satunya dengan memperpanjang masa eksplorasi bagi laut dalam. Pemerintah biasanya memberikan jatah waktu kepada kontraktor untuk melakukan eksplorasi paling lama 10 tahun. Nantinya masa eksplorasi akan ditambah menjadi 15 tahun.
Insentif lainnya berupa perubahan split (bagi hasil) yang yang lebih besar untuk kontraktor migas di laut dalam. Porsi bagi hasil ini memang sering dikeluhkan investor migas yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Ini salah satu yang menyebabkan usaha migas di dalam negeri dianggap kurang menarik.

Berdasarkan riset Wood Mackenzie, Indonesia menjadi negara dengan porsi migas pemerintah paling besar kedua dari 10 negara. Indonesia mengambil porsi migas pemerintah sebesar 81 persen, lebih tinggi satu persen dari Malaysia, dan empat persen dari Norwegia.
Ada beberapa opsi skema bagi hasil yang sedang dipertimbangkan pemerintah untuk lapangan migas laut dalam. Yakni dengan menggunakan sistem Dynamic Split atau Sliding Scale Revenue Over Cost (R/C). Melalui skema itu, bagi hasil pemerintah ataupun kontraktor akan berfluktuatif. Jika harga minyak dunia masih rendah, bagi hasil yang didapatkan pemerintah lebih sedikit. 

Menurutnya perubahan bagi hasil ini akan menyesuaikan dengan kondisi lokasi laut dalam yang dikerjakan kontraktor. Namun, dia masih belum mau membocorkan berapa kisaran perubahan bagi hasil yang akan diterapkan. Dia berharap dengan adanya perubahan skema bagi hasil ini, kontraktor semakin bersemangat menggarap potensi migas laut dalam di Timur Indonesia.



sumber: katadata.co.id

Walau Alergi, Masih bisa koq untuk mempertimbangkan untuk makan seafood


Pernahkah Anda merasakan bengkak, kulit memerah, serta gatal setelah makan seafood, padahal Anda tidak memiliki riwayat alergi seafood? Atau sebelumnya Anda merasa baik-baik saja mengonsumsi jenis hidangan tersebut.

Bengkak, eksim, bersin, pusing, hingga sesak napas kerap diderita orang begitu mengonsumsi hidangan laut atau seafood. Padahal, orang tersebut sebelumnya tidak ada riwayat alergi seafood.
Bagi para penggemar seafood yang mengalami hal seperti ini, tentunya Anda tetap dapat mengonsumsi hidangan tersebut. KompasTravel berhasil menghimpun tips menghindari efek dari makan seafood berdasarkan pengalaman koki yang kerap menangani seafood di restoran Satoo, Shangri-La Hotel, Jakarta, Sakirun Achmad.
Gejala-gejala alergi temporer itu disebabkan oleh beberapa hal dan dapat diantisipasi dengan beberapa tips berikut:

1. Pastikan kondisi badan
“Ada alergi yang tergantung fisik, alias bukan bawaan. Saya juga pernah mengalami ketika badan kecapekan dan drop, lalu makan seafood itu reaksinya cepat bentol kemarahan, hingga gatal,” ujar Sakirun, Kamis (19/5/2016).
Kondisi badan yang lemas dan stres akan berpengaruh terhadap reaksi pemicu alergi terhadap makanan laut. Jadi, pertama, pahamilah kondisi badan Anda sebelum melahap hidangan seafood yang menggoda.

2. Pastikan kebersihan bahan
Seafood identik dengan kesegarannya, lokasi seafood itu berasal, penyimpanan, hingga pengolahan sangat berpengaruh terhadap kebersihan. Lokasi asal seafood yang terlalu banyak mengandung limbah atau tercemar logam akan membuat bahan laut tersebut buruk.
Sakirun lebih menyarankan memperoleh seafood dari tempat-tempat lokal yang masih belum terlalu dijamah limbah pabrik, seperti beberapa pesisir Kalimantan Selatan, perairan Bangka, dan Bali.
“Biasanya yang fresh itu daerah-daerah pedalaman, bisa jadi bukan di kota besar atau industri,” ujarnya.
Ia mengatakan, di restoran Shangri-La Hotel Jakarta sendiri menggunakan badan yang khusus memeriksa higienitas bahan pangan, yaitu Shangri-La Food Safety Management System.

3. Seafood tak bisa tahan lama
Seafood itu hidangan yang high risk, cepat basi, cepat berubah ketika terlalu lama,” ujarnya.
Jadi, bagi Anda yang ingin mengonsumsinya, pastikan juga bahan yang digunakan bukan seafood yang terlalu lama di penyimpanan atau baru dipakai lama setelah ditangkap.
Chef Sakirun sendiri menyarankan seafood disimpan jangan lebih dari satu hari. Selain itu, ketika tidak habis, seafood tidak dapat diolah kembali.
Jadi, jangan mau memakan seafood yang sudah dimasak dan karena tidak habis terjual lalu dimasak kembali. Hal ini merupakan cara yang salah dalam mengolah seafood.

4. Memakan salad sebelum makan seafood
Untuk pencegahan terakhir, ia mengatakan, kebiasaan memakan salad sebelum menikmati seafood merupakan kebiasaan baik.
Lettuce, terutama salad hijau, dapat mengurangi risiko alergi sebelum makan seafood,” ujarnya.
Sedangkan untuk hidangan penutup, menurut dia, tak terlalu berpengaruh atau menyerahkannya pada selera konsumen.


sumber: Kompas

WOW.. Spons laut tertua dan terbesar ditemukan



Para ilmuwan menjelajahi petak dalam laut di kepulauan Hawaii, dan mendapat kejutan yang tak terduga ! Mereka tak sengaja menemukan makhluk dengan rupa mengerikan yang tinggal di bawah laut.
Makhluk itu ternyata adalah spons laut! Satu spons laut terbesar yang pernah tercatat. Imuwan juga mengatakan bahwa spons laut tersebut merupakan salah satu hewan tertua di planet ini. 

Penemuan ini terjadi pada musim panas lalu oleh tim ilmuwan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Ilmuwan melakukan ekspedisi mengunakan kapal Okeanos Explorer, Mereke mendokumentasikan penemuan ini dalam sebuah laporan yang diterbitkan pekan ini dalam jurnal Marine Biodiversity.
Spons ditemukan di Monumen Nasional Kelautan Papahanaumokuakea, salah satu Situs Warisan Dunia, pada kedalaman 7.000 kaki. Spons diperkirakan memiliki ukuran panjang 12 kaki, tinggi 7 kaki, dan lebar 5 kaki.
"Menemukan sebuah spons besar dan tua ini mungkin dapat menjadi dorongan lebih banyak yang dapat dipelajari dari lingkungan bawah laut yang masih murni. Salah satunya adalah Papahanaumokuakea,” ungkap Daniel Wagner, seorang spesialis riset NOAA dan pemimpin ekspedisi.

Sebelumnya, spons terbesar yang pernah tercatat ditemukan pada tahun 1887 di lepas pantai barat Kanada. Spons yang sebanding panjang ditemukan laut dari Kepulauan Hawaii utama, tetapi tidak memiliki tinggi atau lebar yang berbeda.

Wagner dan rekannya, Christopher Kelley dalam laporan memaparkan bahwa beberapa spons laut telah diperkirakan hidup lebih dari 2.300 tahun dan mencapai ukuran besar. Selain penemuan spons laut terbesar di Bumi, mereka juga menggarisbawahi penemuan ini menjadi acuan kebutuhan untuk melindungi daerah ini dengan tindakan konservasi tertinggi yang tersedia.

sumber: NationalGeographic Indonesia

Warga Aceh Barat mengungsi akibat Banjir Rob dan gelombang


Meulaboh (ANTARA Aceh) - Puluhan masyarakat di Desa Pasir, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mengungsi akibat rumahnya dihempas gelombang dan terendam oleh banjir pasang air laut (banjir rob).

Kepala Desa Pasir Romi di Meulaboh, Senin, mengatakan, bahwa kondisi rendaman banjir akibat pasang air laut tersebut telah berlangsung dua pekan terakhir, namun pada Senin dini hari warga terpaksa mengungsi karena rumahnya sudah dihempas gelombang pasang.

"Satu unit rumah tadi malam rusak dihempas gelombang dan ada sekitar 40 unit rumah lain direndam air gelombang pasang air laut hari ini. Sebagian warga sudah mengungsi dan sudah kita anjurkan semua warga untuk mengungsi," katanya.

Masyarakat korban gelombang pasang purnama dibantu Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penangulangan Bencana (BPBD) Aceh Barat bersama-sama membangun kembali dinding tanggul yang sudah jebol dihempas gelombang setinggi 2 meter.

Penanganan darurat dilakukan dengan memasang kembali gorong-gorong sumur semen pada titik-titik tangul yang telah jebol, kemudian diisi dengan pasir pantai untuk menimalisir air gelombang semakin tinggi dipermukiman warga.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada korban jiwa dalam bencana alam ini, namun kerugian sudah lumayan besar karena rumah mereka yang sudah dihempas gelombang pasang dan tertimbun pasir sudah tidak layak ditempati lagi.

"Korban jiwa belum ada, tapi itu sangat tidak kita harapkan, bila pemerintah tidak segera membangun tebing pengaman, kita tidak bisa menjamin hal itu bisa terjadi atau tidak. Sebab gelombang pasang ini masih akan terus terjadi,"tegasnya disela-sela membantu evakuasi.    
    
Sebagian perabotan rumah masyarakat yang berhasil diselamatkan dibawa ke tempat pengungsian sementara seperti pada kantor balai desa, rumah tetangga dan pada tempat terbuka yang sedikit jauh dari sampainya gelombang pasang itu.

Romi menyebutkan, masyarakat tetap berharap pemerintah segera membangun tebing pengaman pantai terbuat dari pasak bumi, karena kondisi cuaca ekstrim selama perubahan cuaca ini semakin memicu kepanikan warga yang tinggal dekat pantai.

"Kami tetap berharap dipasang tangul pasak bumi, hanya itu yang bisa mengamankan pemukiman warga dari gelombang laut. Kejadian seperti ini berulang pada saat pergantian musim," jelasnya.

Selain itu, kejadian serupa juga dialami Desa Suak Indra Puri, Kecamatan Johan Pahlawan, sejumlah rumah di kawasan itu juga terendam dan badan jalan sudah tertimbun pasir yang diseret bersama gelombang pasang ke jalan lintas desa.

Rendaman pasang air laut juga terjadi di Desa Pasar Aceh, dimana ruas badan jalan sempat direndam bajir rob dalam beberapa waktu singkat, meskipun belum berdampak terhadap warga sekitar harus mengungsi seperti masyarakat Desa Pasir.

sumber: Antara