| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Sunday, April 10, 2016

ISKINDO: Kebijakan Pencemaran Laut dan Pesisir



ISKINDONews- Pencemaran Laut dan Pesisir menjadi kajian kebijakan yang diangkat pada minggu ketiga sejak diluncurkannya Program ISKINDO Marine Policy Center (IMPC) Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia. Pelaksanaan program ini kemudian disambut baik oleh Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan bersepakat untuk melakukan kerjasama dalam melakukan kajian-kajian kebijakan kelautan. Hal ini didasari oleh karena isu yang diangkat merupakan salah satu lingkup bagian dari Direktorat Pendayagunaan Pesisir yang perlu melakukan terobosan untuk mengurangi bahan pencemar yang masuk ke perairan di Indonesia utamanya pada wilayah pesisir.

Dalam dialog yang dilaksanakan di Ruang Rapat DEKIN, Lantai 7 Gedung Mina Bahari II, Kementerian Kelautan dan Perikanan hadir Ketua Bidang Riset dan Iptek ISKINDO Dr. Agung Dhamar Syakti, Kus Prisetiahadi selaku Kabid Pencemaran Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan, Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya dan Dr. Hendra Yusran Siry yang mewakili Direktorat Pendayagunaan Pesisir yang ketiganya merupakan narasumber yang memberikan gamabaran tentang kondisi pencemaran laut dan pesisir.

Dialog kali ini juga dihadiri oleh berbagai instansi pemerintah seperti Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan, Dit. Pengembangan PU, Ditjen Cipta Karya – Kementerian PUPR, Sekretaris Nasional CTI-CFF Indonesia, Dit. Pendayagunaan PPK dan Dit. PSDKP KKP serta beberapa perwakilan Iskindo.

Dalam dialog tersebut Hendra Yusran Siry berkesempatan menyampaikan paparannya lebih awal dengan judul Pengendalian Pencemaran di Kawasan Pesisir dan laut, data yang cukup mencengankan bahwa menurut data yang dihimpun sebanyak 80% sampah di laut itu berasal dari daratan dan 90% diantaranya adalah sampah plastik. Jelas ini adalah ulah manusia yang perlu dilakukan pembenahan secara besar-besaran.

terkait: lautan kini menjadi tempat pembuangan akhir sampah

Kemudian dijelaskan lagi bahwa di Indonesia tercatat 480 perusahaan air kemasan, yang berproduksi sekitar 350 dan telah memproduksi 19,3 milliar liter di tahun 2012. Seperti yang disampaikan oleh Hendra Yusran Siry “Di Indonesia saat ini tercatat 480 perusahaan air kemasan, tetapi yang berproduksi hanya 350 Konsumsi air kemasan di Indonesia Tahun 2011 mencapai 17,7 miliar liter dan tahun 2012 mencapai angka 19,3 miliar liter”. Bisa kita bayangkan berapa banyak plastik yang digunakan sebagai kemasan untuk miliaran air tersebut.

Catatan penting yang ditekankan oleh Hendra Yusran Siry bahwa ada dua upaya yang ingin dilakukan yaitu Upaya secara struktural dan non-struktural. Upaya struktural tersebut diartikan sebagai kegiatan penanggulangan limbah seperti melakukan pengembangan sarana penanggulangan pencemaran di desa pesisir, menyediakan tempat pengelolaan limbah terpadu hingga memberikan nilai tukar pada sampah tersebut. Upaya non-struktural kemudian dimaknai sebagai kegiatan yang sifatnya membangun kesadaran individu dan kelompok untuk turut serta dalam melakukan perubahan untuk sadar akan kebersihan lingkungan. Lebih jauh lagi diharapkan masyarakat ingin bersama-sama menyusun tata ruang pemukiman ramah pencemaran.

Narasumber kedua dalam dialog kebijakan tersebut memaparkan materi tentang Marine And Coastal Pollution : Segara Anakan Case Study yang disampaikan oleh Dr. Agung Dhamar Syakti. Beliau bekerja sebagai Dosen sekaligus Kepala Center For Maritime Bioscience Studies di Univesitas Jenderal Soedirman, selain itu beliau juga menjabat sebagai Ketua Bidang Riset dan Iptek ISKINDO.
Disampaikan dalam paparannya mengenai riset pengelolaan limbah di Segara Anakan, dimana dalam riset tersebut ada istilah citizen science dengan melibatkan mahasiswa untuk turut serta melakukan penelitian di berbagai macam persoalan kelautan. “Terkait dengan plastik ini, kita melakukan kegiatan yang disebut dengan Citizen Science dengan melibatkan mahasiswa”. Ini mestinya bisa dipraktekkan dan dilakukan kerjasama antara instansi pemerintah dengan kampus-kampus kelautan untuk melaksanakan riset pengelolaan limbah dan sampah plastik secara nasional.

Hal lainnya yang menarik dalam paparan Dr. Agung adalah hasil riset mengenai kandungan plastik dalam tubuh ikan, bahwa banyak jenis plastik yang ditemukan. Ini berarti ikan-ikan yang ada di segara anakan sudah tak aman untuk di konsumsi. Jika dikaitkan dengan data yang disampaikan oleh narasumber sebelumnya maka kemungkinan ikan-ikan yang beredar di Indonesia rata-rata mengandung bahan plastik.

Selanjutnya, Bapak Kus Prisetiahadi selaku perwakilan Kemenkomar menyampaikan terkait tupoksi kemenkomar dan kebijakan-kebijakan baik nasional maupun international, salah satunya mengenai konvensi Marpol (marine pollution) 73/78 yang berisi tentang pengendalian pencemaran kapal di laut. Kemudian disampaikan juga mengenai peraturan nasional mengenai penanggulangan sampah plastik, khususnya di kapal dan kepelabuhan.

Setelah para narasumber menyampaikan materinya beberapa tanggapan disampaikan oleh masing-masing perwakilan instansi yang hadir dalam pertemuan tersebut. Seperti Kasubdit Penataan Lingkungan, Dit. Pendayagunaan PPK Ir. Gustiawirman, M.Sc, menegaskan bahwa selain riset kita butuh sesuatu yang lebih teknis dan operasional yang bisa dilaksanakan di pulau-pulau kecil. Kemudian Djarot Twin dari Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan, menyampaikan seperti apa tata kelola sampah pada moda transportasi udara dan transportasi laut.
Dialog terus berlanjut dengan masukan-masukan yang sifatnya strategis, realistis dan implementatif. Kemudian mendorong terciptanya pengelolaan bahan pencemar, utamanya sampah di wilayah pesisir dan laut. Pada akhirnya dialog kebijakan tersebut diarahkan untuk mengeluarkan strategi pengelolaan pencemaran laut dan pesisir.

0 comments:

Post a Comment