| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Sunday, April 10, 2016

ISKINDO: Kebijakan Pencemaran Laut dan Pesisir



ISKINDONews- Pencemaran Laut dan Pesisir menjadi kajian kebijakan yang diangkat pada minggu ketiga sejak diluncurkannya Program ISKINDO Marine Policy Center (IMPC) Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia. Pelaksanaan program ini kemudian disambut baik oleh Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan bersepakat untuk melakukan kerjasama dalam melakukan kajian-kajian kebijakan kelautan. Hal ini didasari oleh karena isu yang diangkat merupakan salah satu lingkup bagian dari Direktorat Pendayagunaan Pesisir yang perlu melakukan terobosan untuk mengurangi bahan pencemar yang masuk ke perairan di Indonesia utamanya pada wilayah pesisir.

Dalam dialog yang dilaksanakan di Ruang Rapat DEKIN, Lantai 7 Gedung Mina Bahari II, Kementerian Kelautan dan Perikanan hadir Ketua Bidang Riset dan Iptek ISKINDO Dr. Agung Dhamar Syakti, Kus Prisetiahadi selaku Kabid Pencemaran Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan, Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya dan Dr. Hendra Yusran Siry yang mewakili Direktorat Pendayagunaan Pesisir yang ketiganya merupakan narasumber yang memberikan gamabaran tentang kondisi pencemaran laut dan pesisir.

Hanya Empat Persen Wilayah Laut yang Dilindungi, Hasil riset menunjukkan....




Meskipun upaya global untuk meningkatkan Kawasan Konservasi Laut (KKL) atau juga dikenal dengan Marine Protected Area (MPA), nyatanya hanya empat persen yang berada dalam payung daerah perlindungan Kawasan Konservasi Laut. Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari University of British Columbia (UBC).


Para peneliti dari
Institut Kelautan dan Perikanan UBC menemukan bahwa masih banyak wilayah utama laut yang masih harus dilindungi untuk mencapai target dasar secara global.

Monday, April 4, 2016

Hidangan Sup Plastik di Laut Australia


Riset lingkungan yang didanai oleh Parlemen Australia menemukan bahwa polusi telah mengubah lautan di sekitar negara itu menjadi hal yang mereka sebut sebagai 'sup plastik'.
Para peneliti memperkirakan terdapat sekitar 35 miliar potong sampah plastik yang bisa dilihat di perairan Australia.
Mereka juga mengatakan butiran plastik berukuran mikro, yang biasa digunakan untuk kosmetik dan pasta gigi, yang dimakan ikan sebelum kemudian berakhir di dalam tubuh manusia sebagai bagian dari makanan laut atau seafood.

Heidi Taylor yang mengepalai Tangaroa Blue Foundation -lembaga yang bekerja untuk mencegah dan membersihkan laut dari sampah- menyatakan problem ini disebabkan oleh manusia.
"Ini merupakan persoalan lingkungan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, juga di masa mendatang. Pemecahannya adalah kita harus mengubah perilaku kita," kata Taylor.

Para peneliti berpendapat bahwa butiran plastik menyerap racun kimia di laut.
Sebuah studi yang dilakukan oleh badan ilmu pengetahuan Australia baru-baru ini memperlihatkan dari sekitar 60% dari seluruh spesies burung laut yang mereka teliti, ditemukan plastik di dalam perut burung-burung tersebut.


Sumber: BBC Indonesia