| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Thursday, February 25, 2016

Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari





TERANGI - Kesejahteraan masyarakat pesisir secara langsung terkait dengan kondisi habitat alami  seperti pantai, terumbu karang, muara, hutan mangrove dan padang lamun. Keindahan laut dan pantai, dengan kelimpahan kehidupan laut, yang memikat ratusan juta orang untuk datang  dan bermain di sepanjang garis pantai di seluruh dunia.


Hal tersebut memberikan peluang untuk menghasilkan pendapatan bagi masyarakat pesisir dan sangat berkaitan dengan pelayanan barang atau jasa di habitat/lingkungan pesisir itu sendiri seperti:
• Pemancingan komersial dan rekreasi
• Pariwisata Pantai
• Jasa Rekreasi
• Pelabuhan
• Petualangan Alam


Tapi untuk berapa lama  kawasan pesisir melayani  mereka sebagai tujuan bagi wisata, sumber makanan dan investasi, untuk pekerjaan dan tempat bermain untuk keluarga?. Para ilmuwan  Coral Reef Targeted Research (CRTR) mengatakan tidak lama, dikatakan pula bahwa dampak berbahaya pada habitat alami dari pembangunan pesisir akan terakumulasi, dari waktu ke waktu.

Kerusakan habitat penting dan sistem pendukung biologi serta fisik yang disebabkan oleh konstruksi  pesisir dan perkotaan bisa bermacam-macam, mereka sering tidak dapat dirubah dan beberapa tidak terlihat.  Misalnya, penebangan mangrove untuk membuat pantai sehingga mengurangi filtrasi alami yang meningkatkan polusi, mengurangi perlindungan badai, dsb. Sehingga perlu dibangun sebuah sistem yang memerlukan manajemen yang berkelanjutan (restorasi pantai).
Sebagai tambahan dampak  pada sistem ekologi pesisir, pembangunan pesisir yang tidak sesuai akan memiliki dampak sosial jika tidak dievaluasi secara memadai. Ekosistem pesisir yang berkelanjutan memberikan manfaat rekreasi dan sosial yang tak terhitung jumlahnya untuk penduduk dalam jangka panjang. Perlindungan habitat pesisir adalah investasi budaya yang bijaksana, serta  tuas produksi ekonomi untuk jangka panjang.

Berpikir Panjang, Tidak Singkat

Pemerintah  dan pejabat perencanaan daerah harus mengantisipasi, dan merencanakan, perubahan habitat di  pesisir dalam skala 5-20  tahun, bukan pada skala 2-3 tahun. Tantangan bagi perencana dan pengembang di kota pesisir adalah untuk mengantisipasi dampak kumulatif yang disebabkan oleh keputusan mereka. Semua keputusan pemerintah saat ini akan menajdi warisan dan komitmen mereka untuk pemerintahan di masa depan.
Diperkirakan bahwa pada tahun 2050, 91% dari garis pantai dunia akan terpengaruh oleh efek dari pembangunan. Sekarang ini, sekitar 80% pencemaran laut berasal dari kegiatan di darat. CRTR menyarankan bahwa pembangunan pesisir merupakan proses yang berkesinambungan yang perlu dikelola untuk menjamin kelangsungan proses ekosistem. Menyadari pentingnya pembibitan habitat,  jalur migrasi bagi ikan-ikan, adalah  kebutuhan penting untuk melestarikannya.
Tantangan baru akan segera menumpuk  ke masalah yang belum terselesaikan yang terkait dengan habitat pesisir, termasuk kenaikan permukaan air laut, pengasaman laut dan pertumbuhan penduduk di pesisir.

Apa yang Dapat Dilakukan Sekarang
Merupakan bisnis yang cerdas untuk perencana kota dan pejabat terpilih untuk melestarikan ekosistem laut dan pesisir karena banyak kegiatan ekonomi yang dapat ekosistem laut dan pesisir dukung.
Negara-negara berkembang yang memiliki terumbu karang, terutama yang berada di Amerika Latin, Karibia dan Afrika Timur, lebih dari 50% pemasukan PDB (Produk Domestik Bruto) berasak dari lingkungan laut dan pesisir.
Dengan menyeimbangkan keuntungan serta konservasi jangka panjang, produksi ekonomi yang dihasilkan oleh penangkapan ikan komersial, wisata pantai, pengiriman dan rekreasi bisa terjaga dari waktu ke waktu.

Langkah Penting untuk Mencapai Pengelolaan Pesisir yang Berkelanjutan

  • Mengantisipasi dan merencanakan perubahan habitat pesisir dalam skala waktu 5-20 tahun, bukan pada skala 2-3 tahun.
  • Mengantisipasi Dampak Kumulatif - pembangunan pesisir merupakan proses yang berkesinambungan dan dampak negatif dapat berakumulasi dari waktu ke waktu, menyebabkan perubahan besar dalam kondisi lingkungan pesisir.
  • Memberikan Dana Insentif sehingga wisata pantai, perikanan dan perusahaan pesisir lainnya dapat mengadopsi praktek bisnis bijak yang berkelanjutan.
  • Memastikan semua stakeholder  pesisir, khususnya penduduk/masyarakat, terlibat secara langsung ketika membuat keputusan tentang pembangunan pesisir.
  • Menghindari kepadatan penduduk dengan menerapkan aturan zonasi yang ketat untuk rencana penggunaan lahan, memperkuat dan menegakkan peraturan dengan ketat yang mengatur tentang pembangunan pesisir.
  • Mengadopsi Praktik  Bijak dalam pengelolaan sampah untuk mengurangi pencemaran pesisir, serta memelihara dan meningkatkan kualitas air.
  • Memperoleh pengkajian lingkungan yang obyektif dan komprehensif untuk proposal perencanaan pembangunan pesisir.
  • Menggunakan ahli lingkungan yang independen untuk mengevaluasi perencanaan pengembangan pesisir.


Pertumbuhan Pesisir: Menghitung Biaya Jangka Panjang
Padatnya Pemukiman , serta pariwisata massal, sering merusak daerah pemijahan dan habitat terhubung yang digunakan untuk proses rekruitmen ikan. Hal tersebut harus diperhatikan ketika proses pembangunan pantai. Pembangunan meningkatkan permintaan akan air bersih dan tentu akan menghasilkan jutaan galon limbah yang harus dibuang. Seringkali limbah dibuang ke sungai yang menuju ke laut. Dampak dari limpasan limbah seperti polusi adalah kekeruhan yang kronis pada terumbu karang dan gangguan terhadap jaring makanan yang juga dapat berpengaruh ke perairan dalam.
Hasil dari keseluruhan dampak ini adalah kehancuran habitat penting pesisir secara perlahan namun pasti. Seiring waktu, perubahan habitat akan mengurangi hasil produksi perikanan, mengganggu atau merusak hubungan antara habitat, dan berkurangnya perlindungan pantai.
Proyek pembangunan pesisir di negara berkembang sering mendapatkan persetujuan pemerintah tanpa ada evaluasi penuh dari dampak jangka panjang karena peraturan yang tidak memadai atau adanya tekanan politik. Pengembangan sering berlangsung karena bisa  memberikan pekerjaan dan pendapatan dalam jangka pendek. Tapi Ekosistem  menanggung efek jangka panjang dari pembangunan yang tidak benar, Inefisiensi penerimaan pajak, budaya lokal terdegradasi, dan dampak lain yang terabaikan jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Pengelolaan Pesisir - Bukan Hanya Tentang Pengendalian Pembangunan
Konektivitas merupakan prinsip penting ketika mengevaluasi pembangunan yang diusulkan, untuk menjamin keberlanjutan ekosistem pesisir, kita tidak bisa sendiri mengawasi pembangunan-pembangunan yang tidak sesuai dengan keberlanjutan suatu wilayah pesisir.
Juga diperlukan hal-hal untuk:
a) Mengelola Perikanan Tepat dengan ketat  seperti membatasi tangkapan, mencegah penangkapan ikan di tempat dilindungi atau pada saat ikan bertelur, dan mencegah penggunaan metode yang tidak tepat seperti pengeboman ikan, trawl, dan penggunaan jaring dengan tingkat selektifitas buruk.
b) Meminimalkan Pencemaran Perairan Pesisir secara ketat dengan mengendalikan pelepasan limbah ke lingkungan, termasuk pestisida, obat-obatan dan bahan kimia baru lainnya. Kemudian dengan teknologi injeksi limbah  ke dalam sumur dalam bisa menjadi solusi untuk pembuangan limbah di daerah pesisir. Catatan: Di luar Eropa dan Amerika Utara, lebih dari 80% dari limbah yang memasuki perairan laut tidak diolah terlebih dahulu.
c) Membangun Kesadaran Publik di Masyarakat Pesisir tentang  nilai ekonomi dan non-ekonomi jangka panjang dari lingkungan pesisir yang dikelola secara lestari. Catatan: 40% dari semua orang di dunia hidup dalam radius + 50 kilometer dari pantai dan antusiasme dunia untuk hidup di pesisir berpotensi menciptakan kerusakan lingkungan hidup.



0 comments:

Post a Comment