| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Wednesday, September 28, 2016

Mengapa Laut Aceh tak Punya Nama?





WILAYAH laut Aceh yang luas terutama terkait dengan koneksi antarpulau, ternyata saat ini masih tanpa nama. Hasil kajian awal kami, teridentifikasi ada beberapa laut penghubung yang penting belum dinamakan, di antaranya wilayah perairan utara Aceh yang memisahkan daratan utama Aceh (Uleelheue) dengan Pulau Weh (lintas Balohan-Uleelheue/Krueng Raya). Lalu, antara Pulau Weh dengan Pulau Aceh juga belum ada nama, dan demikian juga dengan wilayah laut luas seperti antara Pulau Simeulue dengan wilayah barat-selatan Aceh. Wilayah laut sebagai pemisah dua daratan atau pulau secara lebih luas dikenal dengan sebutan selat. Kita bisa saja menamakan Selat Aceh, misalnya, untuk wilayah antara ujung Sumatera dengan Pulau Weh. Lalu apa peran penting dari penamaan selat ini?

Peran penting dari sebuah selat terlihat nyata bila ditinjau dari aspek oseanografi yaitu saat massa air dari suatu laut masuk ke dalam selat, akan menghasilkan gerak massa air yang lebih cepat disertai aliran turbulensi.

Sunday, August 14, 2016

Apa Itu Gempa Bumi? dan Bagaimana Proses Terjadinya?


Apa itu Gempa Bumi?
labeled fault
Gambar 1.


Sebuah gempa bumi adalah suatu peristiwa yang terjadi ketika dua blok atau lempeng bumi tiba-tiba mengalami slip atau pergeseran. Permukaan tempat terjadinya pergeseran lempengan tersebut dikenal dengan daerah patahan atau sesar. Lokasi di bawah permukaan bumi di mana gempa terjadi disebut hiposenter, dan lokasi yang berada tepat di atasnya, yakni di permukaan bumi disebut pusat gempa atau epicenter (Gambar 1).
 
Terkadang sebuah gempa bumi didahului oleh rangkaian tremor keci (foreshocks). Foreshock adalah gempa kecil yang terjadi di tempat yang sama dengan gempa yang lebih besar yang mengikuti kemudian. Para ilmuwan tidak bisa menyimpulkan bahwa gempa bumi yang terjadi adalah foreshock hingga gempa besar (utama) selesai terjadi. Gempa yang terbesar, merupakan gempa utama yang disebut mainshock. Mainshocks selalu memiliki gempa susulan (aftershock) yang mengikutinya. Gempa susulan adalah gempa kecil yang terjadi setelah gempa utama yang terjadi di tempat yang sama dengan mainshock tersebut. Ukuran gempa susulan tergantung pada intensitas mainshock dan dapat terus selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah terjadinya mainshock!
 
Earth penampang
Gambar 2.

Apa yang menyebabkan gempa bumi dan di mana mereka terjadi?

Bumi memiliki empat lapisan utama: inti dalam, inti luar, mantel dan kerak (Gambar 2). Kerak dan mantel bagian atas membuat kulit tipis di permukaan planet kita. Namun ternyata lapisan kulit tipis ini tidak berada dalam satu potong. Kulit tipis tersebut tersusun oleh banyak potongan-potongan seperti puzzle yang menutupi permukaan bumi. (Gambar 3) Tidak hanya itu, potongan-potongan puzzle ini secara perlahan-lahan terus bergerak, meluncur (sliding) melewati satu sama lain dan menabrak satu sama lain.Kita menyebut potongan puzzle ini sebagai lempeng tektonik (tectonic plate), dan tepi lempeng disebut batas lempeng (plate boundary). Batas-batas lempeng terdiri dari banyak patahan, dan sebagian besar gempa bumi di seluruh dunia terjadi pada patahan-patahan ini. Mengingat tepi lempeng ini merupakan material keras dan cukup kasar, kedua lempeng yang bertemu saling terjebak dan terikat (interlock). Sedangkan sisa dari lempengan lainnya terus bergerak. Akhirnya, ketika lempengan telah bergerak cukup jauh, ujung dari lempengan yang tadinya saling mengunci tidak lagi mampu menahan tekanan yang terjadi. Ikatan kunci pada kedua lempeng tersebut terlepas dan terjadilah gempa.

lempeng tektonik
Gambar 3.

Mengapa bumi terguncang ketika terjadi gempa?

Saat batas patahan terjebak satu sama lain, dan sisa dari lempeng terus bergerak. Akibatnya muncul energi potensial yang tersimpat di ujung lempengan yang tertahan. Ketika energi dari gerakan lempeng lebih besar dari gaya gesek antar lempeng, saat itulah interlock menjadi terbuka. seluruh energi yang tersimpan menjadi diledakkan. Energi tersebut memancar keluar dari daerah patahan menuju segala arah dalam bentuk gelombang seismik (seismic wave), seperti riak di kolam. Gelombang seismik mengguncang bumi saat gelombang bergerak dan menjalar, dan ketika gelombang mencapai permukaan bumi, gelombang tersebut mengguncang tanah dan apa pun di atasnya, seperti rumah-rumah kita dan tentunya kita sendiri juga merasakan getaran dari gelombang tersebut! 
 

Pencarian terhadap Zona Inti Gempa Bumi


Tempat dimana lempeng tektonik tertanam di bawah lempeng yang lainnya, di zona yang disebut subduksi di margin (batas) laut, merupakan tempat terjadinya banyak gempa bumi yang kuat. Khususnya gempa bumi pada kedalaman dangkal yang sering menyebabkan tsunami. Bagaimana sebenarnya gempa bumi tersebut dimulai? komposisi bebatuan yang mana yang cenderung patah di interior bumi yang dapat menyebabkan bencana alam tersebut?

Diagram skematik zona subduksi dengan struktur sedimen (Kredit: GEOMAR)

Efek dari gempa bumi sering kali menimbulkan bencana parah. Gempa dapat menghancurkan rumah-rumah, mendorong terjadinya longsoran dan memicu tsunami!. Penyebab utama dari gempa bumi adalah tekanan yang terjadi pada interior bumi, ketika dua lempeng tektonik melewati satu sama lain dan interlock selama proses ini. Tetapi bahkan gempa terburuk sekalipun dimulai dengan dengan celah yang sangat kecil di bebatuan yang kemudian berkembang menjadi patahan besar. Sejauh ini diasumsikan bahwa retakan awal pada gempa bumi terutama terjadi pada sedimen yang kaya akan kandungan lempung (lumpur). Para ilmuwan di GEOMAR Helmholtz Centre dan University of Utrecht (Belanda) kini bisa membuktikan bahwa dalam kondisi tertentu sedimen berkarbonat atau sedimen kapur (calcareous) adalah kandidat yang paling mungkin untuk menghasilkan retakan pertama dalam proses gempa bumi. Studi ini diterbitkan dalam jurnal internasional
Nature Geoscience.

Penyelidikan para ilmuwan tersebut menggunakan sampel yang diperoleh dari dua ekspedisi pada Tahun 2011 dan 2012 menggunakan US drillship JOIDES RESOLUTION di lepas pantai Costa Rica. di daerah tersebut terdapat lempeng Pasifik Cocos yang tersubduksi di bawah lempeng Karibia. Konstruksi lempeng-lempeng ini telah berulang kali menyebabkan gempa bumi yang parah di wilayah tersebut. "Tujuan dari Costa Rica Seismogenesis Project (CRISP) adalah untuk mendapatkan informasi tentang struktur subduksi dan lempeng utama menggunakan core drill" Dr. Michael Stipp dari GEOMAR, inisiator dan penulis kedua dari penelitian saat ini, mencoba menjelaskan.

Selama subduksi Lempeng Cocos membawa sedimen yang di ada atasnya menuju ke bawah. Diibaratkan seperti isi sandwich yang berada di antara dua roti, dalam hal ini sedimen tersebut dihimpit oleh dua lempeng. "Di lepas pantai Costa Rica, zona seismogenik adalah zona di mana gempa bumi yang dihasilkan di sepanjang batas lempeng, dimulai sudah kedalaman yang sangat dangkal sekitar lima sampai enam kilometer. Daerah ini merupakan daerah sedimen yang tersubduksi," sebut Robert Kurzawski , mahasiswa PhD di GEOMAR dan penulis pertama studi tersebut.

Namun, sedimen biasanya menunjukkan komposisi yang bervariasi. Di lepas pantai Costa Rica dan di sebagian besar zona subduksi yang terletak di daerah tropis dan subtropis dapat ditemukan jenis sedimen liat dan berkapur (karbonat). Karena pengeboran diperoleh dari Kapal JOIDES RESOLUTION, memungkinkan ilmuwan untuk mendapatkan dan  menyelidiki sampel persis dari lapisan sedimen yang dituju. Di "Laboratorium Mekanika Batu" dari Universitas Utrecht, mereka mengarahkan sampel sesuai dengan kondisi yang berlaku di kedalaman dasar laut, di mana gempa bumi dangkal terjadi. "Kondisi ini termasuk peningkatan tekanan, suhu sekitar 100 derajat Celcius dan akhirnya terjadi gerakan pergeseran lempeng," Dr. Stipp menjelaskan.

Karena sedimen berlempung (clay) dianggap secara mekanis lemah, maka biasanya diasumsikan bahwa retakan pertama akan terbentuk di sini, yakni ketika tekanan di bawah permukaan sudah cukup besar. Dalam percobaan, menjadi jelas bahwa sedimen berlempung dari Kosta Rika memberikan hasil yang berbeda dibandingkan sedimen berkapur, dimana sedimen berlempung bereaksi kurang sensitif terhadap perubahan stress, suhu dan terutama tekanan porositas. Namus sebaliknya, sedimen berkapur, mengubah sifat gesekan mereka secara signifikan selama peningkatan suhu dan tekanan pori. "Tepat pada kondisi yang diduga sebelumnya untuk terjadinya gempa bumi dangkal, sedimen kapur tiba-tiba menjadi tidak stabil dan lebih lemah dari bahan lempung. Dengan sifat ini sedimen berkapur membentuk titik puncaknya yang telah ditentukan dalam runutan bebatuan", Robert Kurzawski menjelaskan.


Hasil ini menjadi sangat menarik, karena sedimen berkapur merupakan jenis khas dan tersebar luas pada dasar samudera di daerah tropis dan subtropis. Dan dengan demikian memungkinkan terjadinya gempa di banyak zona subduksi sekitar Pasifik, begitu pula di Karibia dan Laut Mediterania. "Tentu saja kami masih belum tahu semua proses yang dapat memicu gempa bumi. Tetapi hasil studi ini telah menunjukkan bahwa sifat-sifat material tidak bisa begitu saja diekstrapolasi dari kondisi permukaan terhadap kedalaman lebih besar. Oleh karena itu, pengeboran lebih lanjut, terutama dalam rangka International Ocean Discovery Program  (IODP), diperlukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang proses gempa di kedalaman", Michael Stipp menyimpulkan.

Saturday, August 13, 2016

Lebih 60 persen Karang di Maladewa Terkena Pemutihan


Lebih dari 60 persen dari karang di terumbu karang di Maladewa telah terkena pemutihan sebagai bagian dari terjadinya suhu tinggi di perairan dunia pada 2016.





Suhu laut yang luar biasa hangat karena perubahan iklim dan fenomena El Niño kuat yang mendorong suhu menjadi lebih tinggi dari biasanya telah menyebabkan terumbu karang di seluruh dunia terpengaruh peristiwa pemutihan global selama dua tahun terakhir.Hasil dari survei
awal bulan Mei tahun ini ditemukan semua terumbu melihat di Maladewa, yang terletak di Samudera Hindia, dipengaruhi oleh suhu permukaan laut yang tinggi.

Pemutihan terjadi ketika alga yang hidup di karang terusir pergi karena stres yang disebabkan oleh perubahan suhu yang ekstrim dan berkelanjutan, menjadikan karang memutih (bleaching) dan menghadirkan ancaman kematian karang jika kondisi tidak kembali normal.

Hingga 90 persen terkena pemutihan

Sekitar 60 persen dari seluruh koloni karang terkena, dan di sejumlah wilayah, pemutihan dapat mencapai sekitar 90 persen.Penelitian dilakukan oleh the Lembaga Riset Lingkungan Maladewa (Maldives Marine Research Centre and the Environmental Protection Agency), dan bekerjasama dengan International Union for Conservation of Nature (IUCN).Ini terjadi pada Alifu Alifu Atholhu - bagian Utara Atol Ari - daerah yang dipilih untuk mewakili atol Maladewa.

baca juga:Ikan kakatua: saat sahabat menjadi pembunuh karang


"Peristiwa Pemutihan menjadi lebih sering dan lebih parah karena perubahan iklim global," kata Ameer Abdulla, pemimpin tim penelitian dan penasihat senior IUCN."Survei kami dilakukan pada permukaan di Tahun 2016 dan temuan awal menunjukkan tingkat pemutihan yang mengkhawatirkan, dengan kematian karang awal sudah teramati."Kami menduga tingkat kematian ini akan meningkat jika pemutihan karang tidak dapat kembali pulih seperti sedia kala."

Maladewa dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki keindahan alam bawah laut. Negara ini memiliki sekitar 3 persen dari seluruh terumbu karang dunia. Selain itu, posisi Maladewa juga terancam oleh adanya penenggelaman pulau-pulau mereka akibat peningkatan level muka air laut.

Pada kasus di Australia, lebih dari seperlima bagian dari Great Barrier Reef diperkirakan telah mati sebagai akibat dari peristiwa pemutihan massal terburuk dalam sejarah. sementara di Kiribati yang berada di Pasifik, sebanyak 80 persen dari karang mati.

KSAL: Peran Penting DISHIDROS dalam Membangun Sektor Kemaritiman


Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Ade Supandi, mengatakan bahwa Dinas Hidrografi-Oseanografi TNI Angkatan Laut harus terus meningkatkan kontribusinya guna membangun sektor kemaritiman Indonesia.

Laksamana Ade menjelaskan bahwa Dinas Hidrografi-Oseanografi TNI Angkatan Laut menyediakan data dan informasi untuk pertahanan dan pelayaran nasional. Menurutnya, informasi yang paling mudah dilihat adalah penyediaan peta dan data sahih perairan nasional untuk kepentingan pelayaran, serta data sahih pasang-surut pantai dan perairan pesisir.

Dua KRI yang beroperasi di bawah Dishidros TNI-AL, KRI Rigel 933 dan Spica 934


Pada tataran lebih tinggi, Dinas Hidrografi-Oseanografi TNI Angkatan Laut bersifat strategis dari sisi pertahanan dan keamanan negara karena produknya menjadi acuan strategi dalam pengamanan wilayah laut nasional.

“Pembangunan fasilitas fisik dan keselamatan pelayaran dari aspek navigasi sangat bergantung pada data hidrografi. Survei mendukung pembangunan pelabuhan, serta penyiapan peta-peta laut baik dalam bentuk kertas maupun elektronik merupakan kegiatan yang kompleks dan hanya dapat dilaksanakan oleh personel hidrografi yang profesional,” ujar KSAL saat memberikan amanat dalam seminar nasional Hari Hidrografi Dunia 2016 di Hotel Mercure, Jakarta Utara, Jumat (12/8).


Laksamana Ade menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki garis pantai panjang, yaitu lebih dari 80.000 kilometer. Oleh karena itu, menurutnya, hidrografi berarti penting bagi aktivitas ekonomi maritim Indonesia.

TNI Angkatan Laut telah memiliki dua kapal hidrografi-oseanografi yang terbilang paling canggih se-Asia, yaitu KRI Rigel-933 dan KRI Spica-934. Kedua kapal hidrografi-oseanografi militer itu dioperasikan dan dirawat oleh Dinas Hidrografi-Oseanografi TNI Angkatan Laut.


Sumber: antaranews.com

USGS: Gempa Bumi 7,2 SR Guncang Pasifik Selatan


Gempa bumi cukup besar berkekuatan 7,2 skala richter (SR) mengguncang Vanuatu, pulau di tenggara Pasifik Selatan, demikian ungkap Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) belum lama ini seraya mengaktifkan peringatan bahaya tsunami lokal.

courtesy of cbslocal.com

Saat ini belum ada laporan atas korban atau kerusakan akibat gempa.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik memberi sinyal siaga untuk wilayah dekat lokasi gempa, meski tak ada ancaman tsunami di kawasan pasifik, ujar lembaga yang berpusat di Hawaii tersebut.

Peringatan tsunami untuk sejumlah kawasan pesisir seperti Vanuatu, Kaledonia Baru dan Fiji, termasuk ibukota Fiji, Suva akhirnya dibatalkan.

Gempa terjadi di perairan dangkal sekitar 10 kilometer (enam mil) dari permukaan laut.

Mulanya gempa dinilai berkekuatan 7,6 SR, tetapi nilai intensitasnya pun dikurangi.

Gempa kuat itu sempat memicu lima guncangan dengan kekuatan berkisar dari 4,7 sampai 5,4 SR, kata USGS.
sumber: AntaraNews

Friday, August 12, 2016

Ekspedisi Internasional untuk Mengungkap Penyebab Gempa dan Tsunami 2004


Bencana gempa bumi yang melanda Sumatera Utara dan Kepulauan Andaman dan Nicobar pada 26 Desember Tahun 2004 lampau telah menyebabkan tsunami yang menerpa masyarakat pesisir di sekitar Samudera Hindia. Kejadian ini mencatat telah menewaskan lebih dari 250.000 orang di 14 negara. Gempa ini disebabkan oleh slip pada zona subduksi batas lempeng di bawah Samudra Hindia bagian timur.

gambar diperoleh dari University of Southampton


Sekarang, untuk beberapa minggu mendatang, tim peneliti internasional kembali ke lepas pantai Sumatera untuk mengumpulkan sedimen laut, batu dan sampel air dari zona ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari proses material dan untuk mengumpulkan data yang dapat memprediksi bagaimana lempeng-lempeng tersebut bekerja di zona sesar yang mampu menghasilkan gempa bumi besar.


Sepanjang Agustus dan September para peneliti tersebut, termasuk ahli dari Ocean and  Earth Science dari Universitas Southampton akan menghabiskan dua bulan di atas kapal pengebor JOIDES Resolution sebagai bagian dari the International Ocean Discovery Programme (IODP). Ekspedisi ini sendiri melibatkan 33 ilmuwan dan dua pengajar dari 13 negara termasuk Profesor Lisa McNeill dan Tim Henstock dari University of Southampton. Profesor McNeill adalah salah satu pemimpin Ekspedisi bersama dengan Associate Professor Brandon Dugan dari Colorado School of Mines dan Dr Katerina Petronotis dari IODP.

 
"Kami sangat gembira bahwa proyek ini akan dimulai karena setelah persiapan yang dilakukan bertahun-tahun serta dedikasi dari seluruh tim ilmuwan dari seluruh dunia," kata Profesor McNeill. "Kami memiliki tim yang sangat baik di sini dan kami berharap hasilnya akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya mengontrol ukuran gempa bumi yang sangat (ter)besar di Bumi, terutama setelah jumlah besar korban akibat gempa subduksi dan tsunami dalam 10-15 tahun terakhir.

"kedua Gempa bumi yang terjadi pada Boxing Day 2004 dan gempa Tohoku-oki Tahun 2011, terjadi pada kedalaman lebih dangkal dari yang diduga, dimana gempa bumi dan tsunami yang dihasilkan sangat besar, serta mendorong re-evaluasi potensi gempa bumi akibat slip dan sifat-sifat dari patahan pada subduksi dangkal , "lanjut Profesor McNeill. "rentetan gempa bumi berkekuatan besar melanda batas lempeng ini sejak Tahun 2004, termasuk juga gempa bumi yang luar biasa besar di lempeng India pada lepas pantai Sumatera Utara Tahun 2012. Oleh karena itu mengembangkan pemahaman yang lebih baik dari proses gempa, perilaku tsunami dan potensi yang akan terjadi menjadi prioritas bagi masyarakat setempat, untuk seluruh kawasan Samudera Hindia , khususnya bagi daerah yang terkait dengan zona subduksi. "

 

Profesor McNeill menjelaskan bahwa subduksi pada marjin Sumatera Utara memiliki struktur yang tidak biasa dan morfologi yang kemungkinan dipengaruhi oleh sifat-sifat sedimen dan batuan yang membentuk margin.

"Meskipun pemahaman kita tentang struktur dan perkembangan ini marjin telah meningkat sangat besar sejak tahun 2004 karena pengumpulan data geofisika kelautan, namun demikian sangat sedikit yang diketahui tentang sifat-sifat bahan yang membentuk zona subduksi ini," lanjutnya. "Proyek ini akan menyelidiki bagaimana bahan yang masuk ke sistem menggerakkan gempa pada perairan dangkal dan mempengaruhi bentuk margin kontinental. Tujuan utama kami adalah untuk memahami potensi bahaya pada margin ini, dan juga pada daerah margin dan patahan lain dengan sifat material dan morfologi manrgin yang sama.
 

Peralatan yang digunakan dalam pengeboran (courtesy of JOIDES)
"Ekspedisi laut ini akan menjadi pertama kalinya yang melakukan pengeboran sumur bor ilmiah pada dasar laut di zona subduksi ini, termasuk lapisan sedimen yang akhirnya berkembang menjadi patahan yang menimbulkan gempa," Profesor Henstock menjelaskan. "kita dapat mengetahui asal-usul sedimen yang dari laut dalam atau asal darat, termasuk sedimen yang terkikis dari pegunungan Himalaya dan terbawa oleh aliran air hingga ribuan kilometer ke Teluk Benggala dan bagian timur Samudera Hindia. Tapi kita masih tidak tahu bagaimana sedimen menjadi berubah secara wujud fisik dan kimiawi , dan menjadi bagian lapisan sedimen dengan ketebalan 4-5 km di atas zona subduksi.

 
" Penenggelaman dan penumpukan sedimen serta peningkatan suhu turut mempengaruhi cairan yang berada dalam tumpukan sedimen, dan ini menjadi sangat penting bagi perilaku gempa sesar," Profesor Henstock menyimpulkan. "Sampling dan mengukur sifat dari material secara in situ dan kemudian ekstrapolasi karakteristik dari material tersebut terhadap kedalaman lapisan yang lebih besar menggunakan teknik pemodelan dan percobaan di laboratorium akan menjadi tujuan penting dari proyek ini."



Sumber: ScienceDaily

Wednesday, August 10, 2016

Pengaruh Peningkatan Suhu dan Keasaman Laut terhadap Zooplankton


Peningkatan keasaman air laut, peningkatan suhu, eutrofikasi dan kehilangan oksigen: Kehidupan di lautan harus mengatasi berbagai faktor tersebut. Bagaimana tanaman dan hewan laut bereaksi ketika perubahan iklim global mengubah lingkungan mereka? Eksperimen di laboratorium dan lapangan, pengamatan di habitat alami yang ekstrim dan pendekatan pemodelan diteliti untuk mengevaluasi reaksi dari ekosistem laut.


Para ilmuwan dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research di Kiel menggunakan  yang disebut "indoor mesocosms " untuk memodelkan laut masa depan di laboratorium mereka: Mereka memindahkan komunitas plankton alami dari lokasi
Fjord di Kiel ke dalam dua belas tangki 1400 liter dan merancang kondisi dua temperatur yang berbeda dan dua konsentrasi karbon dioksida yang berbeda pula. Setelah satu bulan, tabung-tabung diperiksa kembali baik jumlah dan ukuran tubuh dari berbagai tahap perkembangan copepoda serta kandungan dari asam lemak mereka, yang sangat penting untuk nilai gizi organisme. Krustasea dengan panjang hingga satu milimeter merupakan bagian terbanyak dari zooplankton, yakni mencapai 80% dari total populasi zooplankton. Mereka merupakan makanan penting bagi ikan dan larva mereka. Jurnal PLOS ONE menerbitkan hasil studi yang dilakukan sebagai bagian dari BIOACID jaringan riset Jerman (Dampak Biologi Pengasaman Laut).

"Beberapa percobaan telah menunjukkan bahwa efek dari berbagai faktor lingkungan pada organisme laut dapat menambah atau melemahkan satu sama lain. Karena fungsi tubuh dari organisme yang diubah secara berbeda oleh kombinasi faktor, sangat sulit untuk memperkirakan hasil akhir," jelas Dr Jessica Garzke, ahli biologi kelautan di GEOMAR dan penulis pertama dalam artikel publikasi tersebut. "Untuk copepoda, kami telah menunjukkan bahwa dampak negatif dari meningkatnya suhu air lebih penting daripada pengasaman air laut. Pengasaman air laut atau samudera dapat mengurangi sejumlah reaksi -. Misalnya, karena karbon dioksida tambahan yang terlarut dalam air laut mendukung pertumbuhan fitoplankton sebagai makanan untuk copepoda. Tapi pada akhirnya, manfaat ini tidak cukup kuat untuk mencapai efek positif. 

"Penelitian Kiel adalah yang pertama untuk memberikan wawasan tentang dampak pengasaman laut dan meningkatnya suhu pada komposisi asam lemak dalam komunitas alami copepoda. "Menurut pengamatan kami, komposisi asam lemak terpengaruh secara negatif. Ini berarti bahwa kualitas makanan ke tingkat yang lebih tinggi dari jaring makanan dapat berkurang," Garzke menekankan. "jejaring makanan, yang juga dipengaruhi oleh kualitas makanan - bukan oleh jumlah atau kuantitas semata - akan turut memburuk."

 Dr. Garzke dan timnya menganggap bahwa hasil mereka dapat ditransfer ke daerah pesisir lainnya yang mirip dengan Fjord di Kiel . "Karena tingkat karbon dioksida sangat berfluktuasi diakibatkan kondisi aliran di fjord, organisme dapat beradaptasi pada tingkat tinggi dan kurang berdampak buruk dibandingkan kawanan zooplankton di perairan lain," ahli biologi ini mengandaikan. "Tapi kita harus mempertimbangkan bahwa lebih banyak faktor lingkungan yang ikut berperan pada waktu mendatang. Kita perlu lebih banyak percobaan untuk menyelidiki skenario ini khususnya untuk spesies ekologis penting."


sumber: sciencedaily