| Jelajah dan Ilmu Dunia Laut |

Followers

Sunday, November 29, 2015

Deteksi Tuna Sirip Kuning


Tuna termasuk dalam ikan ekonomis penting, yang memiliki tingkat permintaan pasar yang tinggi. Tuna yang termasuk genus Thunnus (Scombridae) memiliki tujuh spesies yaitu yellowfin tuna (T. albacares), blackfin tuna (T. tonggol), longtail tuna (T. atlanticus), serta kelompok bluefin tuna yaitu bigeye tuna (T. obesus), albacore (T. alalunga), northern bluefin (T. thynnus) dan southern bluefin (T. maccoyii) (Block et al,1997). Tuna merupakan jenis ikan pelagis dengan kemampuan renang yang cepat dan memiliki kemampuan jelajah yang cukup jauh. Hal ini didukung oleh ukuran tubuh tuna yang relatif besar hingga dapat mencapai ukuran 2 meter dengan bobot hingga ratusan kilogram.




Sejumlah penelitian dilakukan untuk mencari informasi yang lebih banyak terhadap hewan ini. Tingkat permintaan pasar yang tinggi akan jenis ikan tuna menarik para ilmuwan untuk turut melakukan penelitian untuk melihat distribusi dan pola tingkah laku dari ikan tuna. Hal ini tentunya penting untuk menjaga nilai lestari dari jenis ikan tuna atau jenis ikan-ikan lainnya. 
Tuna sirip kuning banyak ditemukan di daerah tropis dan sub tropis yang tersebar di samudera pasifik dengan kisaran sebaran berada pada 40°LU−35°LS, 120°BT−150°BB. Ikan tuna diduga tumbuh di sekitar pasifik barat atau disekitar perairan timur Indonesia dan Filipina (Menard dan Emile, 2003) dan juga di sekitar perairan Hawaii (Itano, 2000). Ikan jenis ini tumbuh dengan cepat dan memiliki kemampuan renang yang baik. Mereka hidup di daerah lautan lepas pada lapisan pelagis yang diketahui sebagai daerah yang miskin akan ketersediaan makanan. Mereka dapat dengan baik beralih dari satu jenis makanan ke jenis lainnya; memakan apapun yang mereka temui selama dapat di tangkap dan dikunyah, seperti ikan, udang-udangan, cumi-cumi serta organisme yang bersifat gelatin (Menard dan Emile, 2003).

Thunnus albacares, T. tonggol dan T. atlanticus cenderung mencari daerah perairan yang hangat, namun sesekali mereka menyelam hingga kedalaman ratusan meter untuk periode yang singkat (Block et al, 1998; Dagorn et al., 2006),. Kemampuan ikan tuna sirip kuning untuk melakukan penyelaman hingga kedalaman beberapa ratus meter diikuti oleh pola adaptasi tubuh, dimana ikan ini memiliki kemampuan untuk mengembalikan suhu tubuh dengan baik (Dagorn et al., 2000).


          Gambar 1. suhu rata-rata yang diperoleh dari tagging tuna



Tuna sirip kuning merupakan jenis ikan pelagis, hal ini dilihat dari kecenderungan ikan tersebut lebih banyak menghabiskan waktu mereka di daerah dekat dengan permukaan laut, di atas permukaan termoklin (Blank et al., 2002; Block et al., 1997; Block et al., 1998; Dagorn et al., 2006). Hal ini dapat diartikan sebagai batasan tuna sirip kuning terhadap termoklin yang menjadi faktor pembatas utama dalam pergerakan ikan tersebut secara vertikal (Block, 1997). Pada penelitian yang lain, Block et al (1998) juga menjelaskan bahwa ikan tuna sirip kuning yang berada di barat atlantik cenderung mencari perairan yang relatif hangat yaitu dengan kisaran suhu 22-24 oC pada permukaan dan 17.5-21 oC pada lapisan dalam. Kisaran suhu tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Hal inilah yang memungkinkan banyaknya yellowfin tuna yang berada di Hawaii berada pada lapisan tercampur (mixed layer) dengan kisaran suhu 19-26 oC. Perairan hangat juga merupakan daerah yang digunakan oleh ikan ini untuk melakukan pemijahan, seperti pada perairan sekitar Hawaii (Itano, 2000).
Banyak penelitian yang menerangkan mengenai perilaku tuna seperti meneliti sebaran ikan tuna melalui metode telemetri acoustic. Hasil yang didapatkan adalah mengenai sebaran vertikal ataupun sebaran horizontal atau migrasi. Secara horizontal ikan tuna sirip kuning cenderung bermigrasi mencari perairan yang hangat (Dagorn et al., 2006), Seperti keberadaan ikan ini yang juga banyak ditemukan di daerah sekitar gulf stream di barat atlantik, yang merupakan perairan hangat (Block et al., 1998),. Untuk wilayah Indonesia sebaran ikan tuna sirip kuning banyak berada di sekitar utara Papua. Sebaran hasil tangkapan dapat dijadikan informasi mengenai sebaran ikan tuna sirip kuning. Ikan tuna sirip kuning biasanya banyak ditangkap menggunakan purse saine dan long line. Purse saine banyak digunakan untuk mencakup wilayah penangkapan yang luas, sedangkan long line banyak digunakan untuk menangkap ikan tuna sirip kuning yang telah dewasa dengan ukuran 1 meter atau lebih (Hampton et al, 2004). Gambar 2 menunjukkan wilayah tangkapan dan proporsi penggunaan alat tangkap terhadap hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning.



Gambar 3. Hasil tangkapan tahunan ikan tuna sirip kuning (Hampton et al., 2004)





-sp-

0 comments:

Post a Comment